Klub Hewan dan Istri Selingkuh

Wanita cantik, bagilah tubuh indahmu kepada hewan dan semua lelaki…

Arwah Binal

Filed under: seks di luar nikah, seks alam gaib — klubhis at 9:11 pm on Friday, November 2, 2007

Copyright 2000, by KHISmistress (klub_his@yahoo.com)

(supernatural sex - possessed by a spirit, cuckolding, wife sharing)

Aku dan istriku yang baru menikah selama setahun, akhirnya bisa membeli rumah sendiri, setelah selama beberapa bulan ikut dengan mertua. Meski rumah itu tidak begitu besar, namun rasanya cukup membahagiakan hatiku. Bagaimana tidak? Suami mana yang tak merasa bangga bisa membeli rumah sendiri, ketimbang nebeng di rumah mertua.

Rumah yang kubeli, keberadaannya agak jauh dari rumah penduduk lain. Entah mengapa, sepertinya para penduduk di sekitar rumah yang kubeli itu, enggan berdekatan dengannya. Bahkan sewaktu aku hendak membeli rumah itu, ada penduduk yang memberitahuku kalau rumah itu angker. Katanya ada penghuninya.

Aku hanya tersenyum mendengarnya. Aku menganggapnya sebagai cerita bohong belaka. Lagipula, sebagai manusia yang diberi akal dan pikiran, kenapa harus takut pada hal-hal mistik seperti itu? Ketimbang tinggal bersama mertua, bukankah lebih baik punya rumah sendiri?

Semula, saat pertama istriku melihat rumah itu, dia pun mengatakan kalau tempat itu seram. Istriku yang masih muda itu sebelumnya memang selalu tinggal bersama keluarga besar orang tuanya di sebuah rumah besar di lingkungan yang ramai di Sukabumi. Hani baru berusia 20 tahun. Lebih muda 6 tahun dariku. Sifatnya begitu polos dan jujur. Tubuhnya langsing padat dengan kulit yang putih bersih. Wajahnya cantik seperti aktris Dina Lorenza dengan rambut panjang terurai, ia adalah seorang istri yang ideal bagiku.

Dengan keyakinan yang kuberikan, akhirnya istriku pun bisa menerimanya. Setelah dibersihkan dan dirapikan, kami pun pindah.

Hari pertama kami menempatinya, tak ada hal-hal aneh. Itu sebabnya keesokan harinya kukatakan pada istriku bahwa apa yang dikatakan oleh orang-orang mengenai rumah itu tak benar. Istriku pun semakin bertambah yakin dan percaya dengan perkataanku. Begitu juga dengan hari selanjutnya sampai enam hari kami menempati rumah itu, tak ada hal-hal ganjil yang kami alami. Semua itu semakin membuat kami yakin, kalau cerita rumah yang kami tempati ada hantunya hanyalah bohong belaka.

Hingga sampailah pada hari yang ketujuh….

Hari itu hari Kamis malam Jumat. Sejak siang hujan turun dengan deras diikuti oleh angin kencang. Aku dan istriku sedang berada di ruang tengah menyaksikan acara televisi, ketika dari luar terdengar sesuatu berderak keras dan kemudian tumbang dengan menimbulkan suara yang keras dan sangat mengejutkan. Sampai-sampai istriku dibuat menjerit dan memelukku kuat.

Kraaaa….k!! Buuummm…..!!!

“Maass…!”

“Sepertinya ada pohon yang tumbang,” gumamku sambil memeluk tubuh istriku yang menggigil dengan wajah pucat ketakutan. “Sebaiknya kulihat…”

“Aku takut, Mas,” keluh istriku.

“Apa yang mesti kautakutkan? Tak ada apa-apa. Sebaiknya kau di dalam saja,” saranku seraya melepaskan pelukan istriku kemudian melangkah ke teras rumah. Saat itu kulihat pohon nangka yang ada di halaman rumahku tumbang sampai ke akar-akarnya.

Rupanya suara tumbangnya pohon nangka itu juga didengar oleh warga sekitar sehingga mereka pun berdatangan. Kami dibuat terbelalak ketika melihat tanah lubang bekas akar pohon nangka itu. Di lubang tanah bekas akar pohon nangka itu terdapat tulang belulang manusia. Entah tulang siapa.

Karena ada kejadian aneh maka Pak Ramon Da Costa, satpam di sekolah tempatku mengajar yang kebetulan rumahnya tergolong paling dekat dengan rumahku, menghubungi polisi. Dokter forensik dari labkrim langsung melakukan pemeriksaan terhadap kerangka manusia itu.

Tanpa sepengetahuanku, ternyata istriku keluar dan melihat kerangka manusia itu. Saat kerangka itu diangkat, tiba-tiba istriku mengeluh sakit kepala kemudian jatuh pingsan. Hal itu membuatku jadi panik. Dengan bantuan Pak Ramon, segera kubopong tubuh istriku masuk ke dalam kamar meninggalkan masyarakat dan para petugas yang masih sibuk mengurusi tulang belulang itu.

***

Kejadian malam itu segera berlalu. Aku dan istriku tidak berminat untuk membahasnya lagi. Semuanya tampak sudah berjalan normal kembali sampai sekitar seminggu kemudian….. Malam itu aku bermimpi aneh.

Dalam mimpiku, aku melihat istriku tengah bersetubuh dengan seorang pemuda. Melihat hal itu, tubuhku seketika menggigil karena emosi. Ingin rasanya aku melabrak keduanya, namun entah mengapa seketika aku tak mampu berbuat apa-apa. Akhirnya aku hanya bisa melihat bagaimana istriku merintih-rintih dicumbu dan disetubuhi oleh lelaki lain, yang samar-samar bisa kulihat ternyata adalah Ajat, muridku sendiri di SMU tempatku mengajar.

Ajat adalah salah seorang siswa teladan di SMU itu. Selalu menjadi bintang kelas. Dengan tubuhnya yang besar dan sehat, ia selalu aktif di kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler seperti olahraga, paskibra maupun organisasi pencinta alam. Setahuku ia adalah seorang siswa yang sopan dan baik perilakunya.

Namun… kini aku melihatnya dalam keadaan polos sama sekali tengah asyik mencumbu dan menyetubuhi istriku yang juga tak mengenakan selembar benang pun untuk menutupi tubuhnya yang putih dan padat berisi. Tubuh indah yang selama ini hanya aku sendiri yang bisa melihat dan menjamahnya.

Entah berapa lama mereka asyik berkasih-kasihan sementara aku seperti tak berdaya hanya bisa berdiri mematung memandangi aksi mereka. Rasanya seperti lamaaa… sekali.

Akhirnya, tampak Ajat mencapai puncak kepuasannya. Gerakannya yang semula seolah tak pernah diselingi istirahat mendadak berhenti. Wajahnya tampak tegang. Ia sama sekali tak berusaha mengangkat kemaluannya dari dalam tubuh istriku! Anak jahanam itu benar-benar berusaha mengosongkan air maninya yang telah siap untuk meledak sejak beberapa puluh menit yang lalu itu ke dalam rahim istriku yang masih sangat subur. Yang lebih mengejutkanku ternyata istriku sendiri tampak berusaha menahan anak muda itu keluar dari dalam tubuhnya. Dicengkeramnya kuat-kuat Ajat yang sedang menindih tubuhnya di bagian pantatnya.

Ajat pun tampak lemas setelah memuaskan nafsunya kepada istriku yang cantik. Tiba-tiba saat itulah kedua mata istriku berubah menjadi merah membara laksana api. Mulutnya menyeringai, menunjukkan sepasang gigi taring yang runcing.

Entah dari mana datangnya, tahu-tahu tangan istriku sudah memegang sebilah pisau. Kemudian dengan buas istriku menghunjamkan pisau itu ke dada pemuda yang telah menyetubuhinya itu.

“Rasakan pembalasanku…. Hiih….!!!”

Jraab!!

“Aaakh…..!!” Ajat menjerit keras. Ia segera melepaskan tubuh istriku. Darah seketika menyembur dari dadanya. Sesaat tubuh Ajat menggelepar-gelepar, kemudian terkulai mati.

Aku tersentak bangun dari tidurku. Tiba-tiba aku tak menemukan istriku. Entah ke mana perginya. Khawatir terjadi sesuatu pada istriku, aku bergegas bangun dari tempat tidur. Sambil memanggil-manggil, aku berusaha mencari istriku.

“Han….. Hanii…. Di mana kau?” seruku memanggil sambil terus melangkah keluar kamar. Di ruang tamu, aku tak menemukan istriku. Dengan perasaan semakin cemas, aku lari ke kamar sebelah. Kubuka satu-persatu pintu kamar yang ada namun tetap juga aku tak menemukan istriku. Segera aku lari ke arah dapur. Saat itu juga, kulihat istriku sepertinya baru masuk.

“Hani… Dari mana kamu, sayang?” tanyaku seraya mendekat. Kulihat tubuh istriku menggigil kedinginan. Seluruh pakaiannya tampak basah kuyup. “Kau baru keluar…?”

Hani mengangguk dengan tatapan mata sayu.

“Untuk apa?”

“Entahlah, aku juga tak tahu, Mas. Tahu-tahu aku sudah di depan pintu dapur. Karena kudengar kau memanggil-manggil namaku, aku pun masuk,” tuturnya seperti kebingungan.

“Sudahlah, pakaianmu basah. Ayo cepat ganti, nanti masuk angin,” kataku seraya membimbingnya dengan penuh kasih. Sesampainya di kamar, kulepas seluruh pakaiannya. Kemudian kuambilkan gaun yang kering dan membantu mengenakannya. Sedangkan gaun yang basah segera kurendam di dalam air di kamar mandi. “Masih malam. Ayo tidur….”

Hani pun menurut. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Namun begitu wajahnya tampak seperti kebingungan.

“Apa yang kaupikirkan?” tanyaku.

“Tadi saat aku tidur, aku mendengar ada suara seorang lelaki memanggil namaku, Mas. Tiba-tiba aku…. aku tak ingat apa-apa lagi. Dan… dan tahu-tahu aku sudah berada di luar, Mas…” tuturnya dengan wajah masih menunjukkan kebingungan.

“Sudahlah, semua hanya mimpi,” kataku berusaha menghibur hatinya. Untuk memberikan kenyamanan, aku pun memeluknya. Perlahan kucium keningnya, tetapi Hani menolakku secara halus.

“Aku capai, Mas,” katanya dengan mata yang kuyu dan memelas. Lalu ia membalikkan tubuhnya membelakangiku dan segera tertidur pulas. Kututupi tubuhnya dengan selimut yang tebal, lalu aku pun menyusulnya tidur.

Pagi itu aku bangun kesiangan. Kalau saja tak ada kegemparan, mungkin aku tak akan bangun saat itu.

“Ada apa, sayang?” tanyaku pada istriku saat kudengar suara orang ribut.

“Entahlah… Katanya telah ditemukan mayat”

“Mayat?” Bergegas aku bangun. Tanpa cuci muka dulu, aku langsung melangkah keluar rumah untuk melihat apa yang telah menggemparkan para warga. Ketika bertemu dengan Pak Ramon aku pun langsung bertanya, “Ada apa, Pak Ramon?”

“Ajat, Pak Guru.”

“Ajat….?! Kenapa dengan Ajat?” tanyaku dengan perasaan berdebar tak menentu.

“Ajat diketemukan meninggal.”

“Apa..?! Meninggal?”

Penasaran ingin tahu yang sebenarnya, aku pun langsung menuju rumah orang tua Ajat untuk melihat sekaligus melayat. Terpaku aku dengan mata membelalak dan mulut melongo ketika melihat bagaimana keadaan mayat Ajat. Ajat ditemukan mati dalam keadaan telanjang bulat. Sepertinya sebelum meninggal, dia terlebih dahulu melakukan hubungan badan dengan seorang wanita. Yang mengerikan, di ulu hati Ajat terdapat bekas hunjaman pisau.

Kenapa? Kenapa kejadian yang menimpa Ajat persis seperti mimpi yang kualami, pikirku tak mengerti. Ya, sebelum aku menemukan istriku di pintu dapur, aku bermimpi istriku bersetubuh dengan Ajat, salah seorang muridku. Tiba-tiba, setelah Ajat mencapai puncak kenikmatan, wajah istriku berubah menjadi buas dan menyeramkan. Kemudian… istriku menghunjamkan pisau ke ulu hatinya. Oh, Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa mimpiku menjadi kenyataan? Benarkah istriku yang melakukannya? Tidak! Tak mungkin istriku yang melakukannya. Istriku sangat lemah. Ia tak akan bisa berbuat sekejam itu.

Dengan langkah gontai, aku pulang ke rumah. Kutemui istriku tengah duduk termenung dengan wajah tak berdosa. Semua itu, semakin membuatku yakin, bukan istriku yang melakukannya. Lalu… siapa yang telah membunuh Ajat? Dan ke mana istriku semalam keluar? Aku benar-benar dibuat tak mengerti.

“Ada apa, Mas?” tanyanya.

“Ajat, Han.”

“Kenapa dengan Ajat?”

“Dia diketemukan mati dengan keadaan mengenaskan. Sepertinya sebelum dibunuh, terlebih dulu ia berhubungan badan dengan seorang wanita yang mungkin saja pembunuhnya,” desahku lirih sambil memandang ke wajahnya, ingin tahu bagaimana perubahan wajahnya setelah mengetahui berita itu.

“Ya, Tuhan. Bagaimana mungkin, Mas? Ajat anak baik dan selama ini kunilai merupakan muridmu yang paling cerdas dan patuh. Rasanya tak mungkin ia berbuat sejauh itu,” tuturnya masih dengan ekspresi wajah tak berdosa. Semua itu semakin membuatku bertambah tak mengerti.

“Ya, mungkin sudah takdir,” desahku.

***

Malam harinya, kembali aku bermimpi. Saat itu, aku seperti baru pulang dari bepergian. Karena kulihat rumah sepi, maka aku berusaha mencari istriku. Setelah kucari ke sana ke mari, entah dari mana petunjuk yang kudapat, langkah kakiku tiba-tiba terayun ke arah sebuah gudang tua. Dan memang, di sana akhirnya kutemukan istriku. Namun mataku kembali dibuat terbelalak, melihat apa yang sedang dilakukan istriku. Saat itu ia sedang bersama Pak Munandar, Ketua RT tempat kami tinggal.

Saat itu aku melihat pria yang bertubuh gemuk dan berkepala nyaris gundul dengan kumis tipis di atas bibirnya itu dalam keadaan polos, dan tengah menggeluti istriku yang juga dalam keadaan polos sama sekali. Kontras sekali perbedaan mereka dalam keadaan telanjang bulat seperti itu. Pak Munandar yang gemuk, berkulit gelap dan berwajah tak menarik dengan istriku yang ramping, berkulit putih bersih dan berwajah cantik.

Sebagaimana mimpiku kemarin, aku pun lagi-lagi tak bisa berbuat apa-apa. Sekujur tubuhku terasa kaku tak bisa digerakkan. Padahal aku ingin sekali melabrak keduanya.

Pak Munandar memang tampak kaget ketika melihatku memergoki mereka berdua dan berusaha melepaskan diri dari pelukan istriku. Lelaki itu sebetulnya kukenal sebagai seorang yang baik dan suka menolong. Ketika kami pindah rumah pun ia banyak sekali menolong kami tanpa pamrih. Namun dengan bibir tersenyum menggoda, istriku berkata, “Jangan takut, sayang…. Dia tak akan berbuat apa-apa sebab dia lelaki lemah yang tak mampu memberikan kepuasan. Teruskan sayang….. Aku suka dengan kejantananmu….”

Darahku mendidih mendengar ucapan istriku yang bibirnya tersenyum penuh ejekan ke arahku, tapi aku benar-benar tak mampu berbuat apa-apa. Aku hanya bisa berdiri mematung sambil menyaksikan bagaimana istriku terus bercumbu dengan Pak Munandar.

Keduanya seperti sudah kerasukan iblis. Godaan istriku yang cantik dan bertubuh indah telah membuat Pak Munandar seperti lupa segalanya. Ia kembali menyetubuhi istriku seolah tak peduli ia melakukannya di hadapan orang lain yang terus memandangi mereka. Di hadapan suami dari wanita yang sedang disetubuhinya!

Telingaku bagai hendak pecah setiap kali mendengar rintihan dan lenguhan kenikmatan yang keluar dari bibir istriku dan bibir Pak Munandar.

Kali ini pun aku dipaksa untuk melihat bagaimana Pak Munandar mencapai orgasme di atas tubuh istriku yang sedang disetubuhinya. Seperti halnya dengan Ajat, istriku tampaknya ingin sekali membiarkan Pak Munandar mengisikan benih-benih hasil percintaan mereka ke dalam rahimnya. Jari-jemarinya yang mungil mencengkeram kuat-kuat pantat lelaki itu yang besar untuk menolong alat kelamin lelaki itu tetap bersatu dengan alat kelaminnya sendiri sementara Pak Munandar menyemprotkan setiap tetes air maninya ke dalam rahim istriku… Tentu saja aku sangat cemburu melihatnya. Kepalaku terasa akan meledak saat itu.

Ketika Pak Munandar tampaknya telah selesai dan keletihan yang luar biasa tergambar di wajahnya, tiba-tiba terjadi perubahan pada wajah istriku. Wajahnya yang semula cantik, berubah menjadi menyeramkan dengan mata merah membara. Dari mulutnya keluar taring runcing. Lalu, entah dari mana datangnya, tahu-tahu di tangan istriku telah tergenggam sebilah pisau tajam. Sedetik kemudian…..

“Kau telah mendapat kepuasan dariku, Munandar, maka kini saatnya aku harus membunuhmu….!” Bersamaan dengan itu, istriku menghunjamkan pisau stainless itu ke ulu hati Pak Munandar.

Jraaab…

“Wuaaaa……!!!!” Pak Munandar menjerit sekeras-kerasnya. Tubuhnya tertarik keluar dari tubuh istriku dengan sentakan yang tiba-tiba. Ia pun sekarat dengan ulu hati berlubang dan menyemburkan darah, lalu terkulai di samping tubuh istriku dengan nyawa yang sudah melayang.

Istriku bangkit dengan sikap yang tenang. Ketika ia berdiri, aku bisa melihat dari dalam alat kelaminnya keluar cairan sperma Pak Munandar yang pekat. Sisa-sisa benih cinta mereka berdua yang telah menyelesaikan tugasnya untuk membuahi sel-sel telur istriku yang subur itu mengalir dengan cukup deras di kedua paha bagian dalam istriku. Wajahnya tak lagi menyeramkan, tapi pisau yang berlumuran darah masih berada di genggamannya. Ia berbalik ke arahku dan memandangku dengan senyum penuh ejekan.

Lagi-lagi seperti kemarin malam, aku tersentak bangun. Segera aku keluar mencari istriku yang tidak ada di sampingku entah ke mana. Aku yang tadi bermimpi istriku berada di gudang tua segera menuju pintu depan untuk keluar dan pergi ke gudang itu. Namun baru saja kubuka pintu, kulihat istriku sudah berada di depan pintu dengan wajah tampak pucat dan mata terpejam seperti tidur.

“Hani…!”

Hani membuka matanya.

“Mas, bagaimana aku ada di sini?” tanyanya heran. “Bukankah tadi kita sedang tidur?”

Keningku mengerut turut heran. Ya, tadi memang kami tidur bersama dan malah berpelukan. Tetapi, aku bermimpi seram lagi dan sebagaimana kejadian kemarin malam, lagi-lagi istriku seperti kebingungan sendiri seakan tak menyadari apa yang telah dilakukannya.

Melihat kepucatan wajah istriku, aku jadi tak tega ingin bertanya. Segera kubimbing dia masuk. Kemudian sebagaimana kemarin, kugantikan gaunnya yang kotor dan langsung kurendam di dalam air.

Keesokan harinya, kejadian seperti kemarin kembali terulang. Mayat Pak Munandar diketemukan di dalam gudang tua dalam keadaan mengenaskan. Sebagaimana mayat Ajat, mayat Pak Munandar juga ditemukan telanjang bulat. Sepertinya sebelum dibunuh, ia terlebih dahulu bersetubuh dengan seorang wanita yang diduga sebagai pembunuhnya.

Kejadian demi kejadian aneh yang menimpa kehidupan rumah tanggaku membuatku merasa bingung. Di satu sisi, aku merasa kalau korban-korban itu yang membunuhnya adalah istriku. Namun di sisi lain, aku tak yakin kalau istriku yang selama ini sangat lemah adalah seorang pembunuh.

Tak tahan dengan kejadian-kejadian misterius itu, akhirnya malam itu aku berusaha untuk tidak tidur. Aku ingin tahu, apa sebenarnya yang terjadi pada istriku? Namun anehnya, ketika aku tetap tidak tidur, istriku malah tidur dengan nyenyaknya.

***

Karena dua malam terakhir kurang tidur, lewat pukul satu dini hari aku tertidur. Kali ini mimpi itu muncul kembali. Aku melihat istriku berada di tepi sungai bersama Pak Ramon. Sebagaimana biasanya, istriku saat itu tampak begitu mesra merayu Pak Ramon.

“Jangan begitu, Mbak Hani. Tidak baik…. Mbak Hani kan sudah bersuami? Apalagi Pak Sumanto sangat baik dan saya hormati,” kata Pak Ramon berusaha menolak ajakan istriku untuk kencan.

Hani tersenyum menggoda seraya mengangkat gaunnya tinggi-tinggi sehingga mempertontonkan pahanya yang putih mulus seperti pualam. Mata Pak Ramon melotot tak berkedip, memandang nanar ke paha mulus istriku.

“Benar nih Pak Ramon nggak kepingin? Kan istri Pak Ramon di rumah sudah tua? Sudah nggak menyenangkan lagi…? Saya ikhlas kok, Pak. Rezeki jangan ditolak loh…..”

“Saya suka Pak Ramon. Pak Ramon pasti orangnya perkasa,” kata istriku sambil meremas-remas tangan Pak Ramon seperti seorang gadis yang kasmaran.

Sebetulnya Pak Ramon adalah seorang lelaki yang berwibawa dan dihormati. Namun menghadapi seorang wanita muda yang cantik dan bertubuh indah seperti istriku yang menawarkan tubuhnya secara sukarela, lelaki tua veteran perang Timor Timur itu seolah lupa segala-galanya. Aku baru menyadari potensi istriku sebagai seorang wanita penggoda. Wajah yang cantik, tubuh yang indah, usia yang muda, dan rayuan yang maut. Lengkaplah sudah…. Atau apakah itu bukan istriku? Karena sepanjang aku mengenalnya, istriku memiliki sifat yang sangat bertolak belakang. Ia bukanlah tipe wanita nakal yang suka menggoda pria…. Ia adalah tipe wanita yang sangat setia kepada suami.

Karena terus digoda, akhirnya Pak Ramon pun luluh juga imannya. Maka saat Hani menggeser duduknya mendekati lelaki itu sambil melingkarkan kedua tangannya di lehernya, Pak Ramon sama sekali tak melarangnya lagi. Malah kemudian kedua tangannya yang keriput itu mulai beraksi merayapi sekujur tubuh istriku.

Darah cemburuku mendidih menyaksikan pemandangan itu. Ingin rasanya aku membentak agar Pak Ramon dan istriku sadar. Tapi entah kenapa, kerongkonganku bagaikan kering. Tak sepatah kata pun yang mampu keluar dari mulutku sehingga aku hanya bisa melihat adegan demi adegan yang mendebarkan itu berlangsung satu per satu. Bahkan aku hanya bisa menelan ludah saat Pak Ramon menelanjangi istriku dan keduanya kini sudah sama-sama polos…..

Dengan buas dan penuh nafsu, Pak Ramon pun mencumbu serta menggeluti tubuh istriku yang tampak menikmatinya. Aku baru mengetahui bahwa di balik penampilannya yang tenang, walaupun usianya sudah sekitar setengah abad, Pak Ramon ternyata memiliki daya tahan yang luar biasa, di samping juga pengalaman yang tinggi. Dan yang membuatku terkejut adalah ukuran alat vital Pak Ramon yang ternyata besar sekali!!

Kali ini rupanya istriku menemui tandingannya. Nafsu istriku yang luar biasa dengan mudah ditanganinya. Bahkan terkadang aku melihat justru istriku yang usianya kurang dari setengah usia Pak Ramon yang tampak agak kewalahan mengimbangi nafsu lelaki itu.

Tampak sekali kalau Pak Ramon mendominasi istriku. Kulihat sudah lebih dari satu kali ia mengalami orgasme karena disetubuhi Pak Ramon. Tentu saja aku sangat cemburu melihat istriku mengalami kenikmatan luar biasa dari satpam berkulit hitam itu. Anehnya aku benar-benar tak bisa apa-apa selain menonton seluruh adegan itu tanpa berkedip! Aku jadi lebih malu lagi karena kurasakan selangkanganku semakin lama semakin mengeras!

Berbagai gaya pun mereka pertontonkan. Ada banyak gaya bersetubuh yang diterapkan Pak Ramon kepada istriku, yang aku sendiri pun tak pernah melakukannya terhadap istriku itu atau bahkan tak berpikir sama sekali tentang cara itu! Aku baru tahu kalau seorang lelaki bisa menyetubuhi seorang wanita melalui berbagai lubang di tubuhnya - tak hanya melalui alat kelaminnya - setelah melihat Pak Ramon mempraktekkannya terhadap istriku. Aku pun baru tahu kalau istriku mau saja disetubuhi oleh Pak Ramon dari belakang seperti posisi hewan yang sedang kawin.

Bahkan yang paling mengejutkanku adalah ketika istriku duduk bertekuk lutut di hadapan Pak Ramon lalu membiarkan orang tua itu mempompa mulut istriku yang mungil dengan penisnya yang besar. Tanpa merasa jijik sedikit pun, Hani menjilati dan mengisapi alat vital Pak Ramon, tak ubahnya seperti seorang gundik yang tengah melayani tuannya. Seirama dengan keluar masuknya kemaluan orang tua itu di mulutnya, dari bibirnya tak henti-hentinya keluar desisan dan lenguhan kenikmatan.

Aku benar-benar seperti sedang menonton film biru. Hanya kali ini adegannya benar-benar hidup di depan mataku sendiri, dan pelakunya adalah ISTRIKU sendiri!!

Tanpa terasa menit demi menit terus berlalu. Aku sama sekali tak bisa bergerak dari tempatku berdiri. Yang bisa kulakukan hanyalah melihat adegan demi adegan yang dipertontonkan oleh Hani bersama Pak Ramon. Aku seperti seorang murid yang sedang mendapatkan pelajaran seks dari Pak Ramon, yang melakukannya dengan cara mempraktekkannya langsung terhadap istriku sendiri. Dari bibir Hani, terus keluar rintihan dan lenguhan kenikmatan, diiringi geliatan-geliatan nikmat. Aku bisa melihat paling tidak tiga kali istriku telah mencapai orgasme dengan hebatnya. Tampak benar bahwa ia sangat menikmati persetubuhannya dengan Pak Ramon…

Akan tetapi, biar bagaimanapun hebatnya kemampuan seksual seorang pria, akhirnya pasti akan lemas juga ketika telah mencapai puncaknya. Begitu pula dengan Pak Ramon. Tampak jelas kelelahan yang luar biasa di wajahnya. Mungkin ia terlalu memaksakan nafsunya tanpa mengingat bahwa usianya telah beranjak tua. Maka setelah mendepositkan seluruh benih sperma hasil kerja kerasnya selama satu jam ke dalam rahim istriku, lelaki itu benar-benar kehilangan tenaganya.

Dan…. pada saat itulah, untuk kesekian kalinya tiba-tiba wajah istriku berubah menjadi menyeramkan. Entah dari mana datangnya, di tangan istriku tergenggam sebilah pisau tajam lalu…..

Jraab…

“Aaakh…..!!” Pak Ramon menjerit ketika pisau yang tajam itu bersarang di ulu hatinya. Tubuhnya tercerabut dari tubuh istriku sambil meregang-regang untuk kemudian ambruk tanpa nyawa lagi.

Lagi-lagi aku tersentak bangun. Cepat aku keluar mencari istriku. Sebagaimana yang kulihat dalam mimpiku, aku langsung menuju ke sungai. Sesampainya di sana, seketika aku terperangah dengan apa yang kusaksikan. Ternyata mimpiku memang benar-benar nyata! Tampak istriku dengan buasnya menghunjamkan pisaunya berkali-kali ke tubuh Pak Ramon yang malang…. Setelah selesai, istriku yang merasa ada orang yang memperhatikannya segera membalikkan tubuhnya. Matanya tampak buas seperti mata setan, memandang tajam ke wajahku.

“Hani…..”

“Hua ha ha ha….. Kau pun akan mendapatkan giliran!” dengusnya dengan mata terus memandang buas ke arahku. Dengan tangan masih memegang pisau yang berlumuran darah, Hani bergerak ke arahku. Dia bermaksud membunuhku!

“Hani…. Sadar, sayang. Aku Sumanto…. suamimu….!” seruku berusaha menyadarkan Hani. Tapi rupanya Hani yang sudah dikuasai oleh makhluk halus jahat bagai tak mendengar. Dengan pisau terhunus, ia berusaha membunuhku. Tenaganya sungguh sangat luar biasa. Aku sendiri tak sanggup untuk membendung serangannya yang terus datang bertubi-tubi sehingga akhirnya terjatuh lemas. Aku hanya bisa terduduk pasrah, siap menerima kematian yang sebentar lagi akan datang menjemputku.

“Hua ha ha ha…. Kini saatnya pembalasanku tiba, Darga! Dulu ketika kau tanam aku hidup-hidup, aku pernah bersumpah. Jika aku hamil nanti, maka pembalasan akan tiba! Kinilah saatnya…. karena aku telah memasuki raga wanita yang subur ini dan aku telah membuatnya hamil!” dengus suara wanita lain yang keluar dari mulut Hani seraya mengayunkan pisau ke arahku.

Kupejamkan kedua mataku, dengan hati memohon perlindungan serta pasrah kepada Tuhan. “Ya Tuhan, ampunilah segala dosaku…..”

Ketika tangan Hani terangkat ke atas dan siap menghunjamkan pisau ke ulu hatiku, tiba-tiba dari arah selatan melesat seberkas cahaya merah menghantam pergelangan tangannya. Pada saat itu Hani memekik dengan tubuh terhuyung. Tak lama kemudian, tahu-tahu di depanku telah berdiri sesosok lelaki tua.

“Kau….?” desis suara dari mulut Hani dengan mata membelalak ketika melihat sosok lelaki tua yang menolongku.

“Ya, aku Darga, suamimu, Sekarsih…. Kau memang wanita binal! Meski wujudmu sudah berubah, masih saja kebinalanmu membawa korban!” dengus lelaki tua yang mengaku bernama Darga itu tajam. “Jika kau mau membalas dendam, seharusnya akulah yang kau balas, Sekarsih. Bukan pasangan muda ini. Keluarlah dari raganya, Sekarsih. Ayo, ikut aku….”

“Tidak! Aku tak akan pergi sebelum menuntaskan dendamku!” tolak Sekarsih.

“Dendam apa lagi, Sekarsih? Dendammu hanya padaku, karena akulah yang telah menguburmu hidup-hidup. Namun itu semua kulakukan demi keamanan dan keselamatan manusia. Sebab jika kau dibiarkan hidup, maka korban akan terus berjatuhan. Sayang, rupanya wanita malang itu sedang haid ketika melihatmu sehingga dengan mudah kau mampu menguasainya.”

“Hua ha ha ha…. Itu memang sudah lama kutunggu, Darga! Lima puluh tahun lamanya aku menunggu saat-saat seperti ini….. sampai aku menemukan wanita muda yang subur ini dan melalui raganya aku bisa hamil sehingga terpenuhilah syaratku untuk membalas dendam.”

“Hentikan Sekarsih. Kumohon, jangan sakiti mereka,” pinta Darga.

“Baik, tapi sebelum aku pergi, kuminta kau mau menyetubuhiku, suamiku. Lama kita tak bermesraan, suamiku….”

Darga tampak bimbang mendengar permintaan roh Sekarsih. Bagaimana mungkin dia harus menyetubuhi Hani? Meski raga Hani dikuasai oleh roh Sekarsih, tetap saja yang berhubungan badan adalah raga Hani.

“Itu tak mungkin kulakukan, Sekarsih. Raga yang kau tempati adalah istri lelaki muda ini. Kumohon, mengertilah…..”

“Persetan! Aku tak akan keluar dari raga ini sebelum kau ikut menanamkan benihmu ke dalam rahimnya!” tegas Sekarsih tetap pada pendiriannya tak akan meninggalkan raga Hani kalau Darga tak mau menyetubuhinya.

“Aku merasakan tubuh wanita ini sedang memasuki masa suburnya sejak dua hari yang lalu. Sel-sel telurnya yang masak sudah menunggu untuk dibuahi oleh benihmu. Gairah seksualnya sedang berada di puncak …. dan dengan aku yang mengendalikan tubuhnya, lengkaplah sudah yang kita perlukan untuk memuaskan dendam nafsu kita selama lima puluh tahun.”

“Maaf, anak muda….” desah Darga penuh sesal.

“Saya mengerti, Pak.”

Darga pun melangkah mendekat. Sekarsih tersenyum penuh kemenangan. Wajahnya yang menyeramkan berubah kembali menjadi wajah Hani, istriku yang cantik. Aku hanya bisa memejamkan mata, tak mampu menyaksikan pemandangan yang menyakitkan itu. Istriku yang sejak tadi masih bugil, yang raganya dikuasai oleh Sekarsih, dengan mesra memeluk dan mencumbu seorang lelaki tua renta yang usianya pun lebih tua daripada kakeknya sendiri.

Istriku menciumi mulut Darga dengan mesranya seakan baru saja bertemu dengan seorang kekasih yang telah lama tak berjumpa. Dengan mesra dan menggoda, ia pun melucuti seluruh pakaian Darga sehingga tampaklah tubuh rentanya yang kurus dan penuh dengan keriput. Karena Darga telah mencapai usia yang uzur, istriku merasa harus membantu merangsang nafsu seksualnya.

Ia pun berlutut di depan Darga dan memasukkan alat vital lelaki tua itu ke dalam mulutnya. Sama seperti yang ia lakukan terhadap Pak Ramon hanya beberapa waktu yang lalu. Hal yang tak pernah dilakukannya terhadapku, suaminya sendiri. Aku hanya dapat menatap perlakuan istimewa istriku terhadap lelaki-lelaki itu dengan cemburu.

Rupanya cara itu memang manjur untuk mengembalikan gairah Darga yang sudah mulai sulit untuk bangkit. Lelaki tua itu pun melenguh kenikmatan dan tangannya secara spontan memegangi ubun-ubun istriku seolah takut kalau ia menghentikan kegiatannya. Istriku tampak senang melihat hasil kerjanya dan semakin bersemangat melakukannya. Kini istriku melakukannya sambil sesekali tersenyum dan terus memandang ke atas ke wajah Darga. Mata mereka pun saling berpandangan dengan mesranya…. Tampaknya di satu sisi Darga pun tak bisa menyembunyikan perasaan rindunya akan pelayanan istrinya yang binal tapi memuaskan itu.

“Oh, jangan sekarang, sayang…..” kata istriku ketika merasakan cairan bening sebelum air mani dari penis Darga sudah mulai membanjiri mulutnya. Tampaknya lelaki tua renta itu sudah hampir mencapai orgasme. Dikeluarkannya kemaluan Darga yang sudah mengeras seperti batu dari dalam mulutnya yang basah. “Aku ingin kau ikut menanamkan benihmu ke dalam rahim perempuan ini…..”

Hani pun membaringkan tubuhnya yang polos itu ke tanah, sementara Darga tanpa dikomando lagi langsung menindih dan memasuki tubuh istriku. Laki-laki tua yang semula tampak tenang dan bijaksana itu kini tampak sangat bernafsu pada istriku dan tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang langka tersebut. Lagipula ia sudah meminta izin padaku untuk menyetubuhi istriku.

Aku hanya bisa melihat semua itu tanpa bermaksud mengganggu kesenangan mereka. Sepertinya aku sudah mulai terbiasa. Kurasakan celanaku semakin sempit dan basah.

Setelah memompa beberapa lama, tampak Darga tak kuat lagi menahan desakan pada alat kelaminnya. Lenguhannya terdengar berat dan disemprotkannyalah semua air mani yang bisa dikeluarkannya ke dalam tubuh istriku. Hani pun tampaknya mengalami orgasme yang hebat tak lama setelah itu. Rintihan panjang keluar dari bibirnya disertai dengan ekspresi wajah yang sangat puas. Dendam nafsunya seolah terbalaskan pada saat itu juga.

Saat itu juga tampak Darga terjatuh dan sepenuhnya menimpa istriku. Hani pun tak berapa lama kemudian tertidur karena kelelahan. Selama beberapa saat aku terbengong-bengong seperti orang bodoh yang tak tahu harus berbuat apa selain memandangi tubuh-tubuh bugil istriku dan Darga yang saling terkunci sehabis bersetubuh.

Tiba-tiba dari raga Darga keluar sesosok bayangan gaib lelaki muda. Sementara itu dari raga Hani pun keluar sesosok bayangan wanita muda yang sangat cantik. Rupanya itulah Sekarsih. Sosok keduanya lalu menghilang begitu saja.

Aku baru sadar bahwa Darga telah meninggal. Jantungnya sudah tak berdetak lagi. Dengan khawatir aku memeriksa Hani. Syukurlah….. ternyata istriku itu masih hidup. Hanya saja ia tertidur karena kelelahan. Dengan susah payah aku segera melepaskan mayat lelaki tua itu dari tubuh istriku. Rupanya nyawa Darga melayang tepat ketika ia mencapai orgasme. Alat kelaminnya masih dalam keadaan tegang dan kaku serta menancap kokoh pada alat kelamin istriku yang sempit. Begitu kulepaskan, air mani Darga yang kental langsung mengalir keluar dari lubang kemaluan Hani.

Tanpa berpikir untuk mengurusi mayat kedua lelaki itu, aku segera membopong tubuh istriku yang telanjang kembali ke rumah. Hari masih malam dan suasana di sekitar situ sangat sepi jauh dari pemukiman penduduk. Bagaimana pun aku takut kalau-kalau ada orang yang memergoki kami di sana dalam keadaan seperti itu.

Sesampai di rumah aku langsung memakaikan gaun kepada tubuh istriku yang telanjang bulat dan membaringkannya di tempat tidur. Sengaja aku tak memandikannya walaupun tubuhnya penuh dengan keringat dan air mani dari dua orang lelaki yang telah menyetubuhinya malam ini. Aku tak mau membangunkannya. Aku seperti yakin bahwa jika ia terbangun esok pagi, tak sedikit pun kejadian malam ini dan juga malam-malam sebelumnya yang akan diingatnya.

Aku sendiri tak bisa tidur semalaman. Melihat langsung istriku yang muda dan cantik disetubuhi oleh 4 orang lelaki selama 3 malam berturut-turut jelas bukan suatu pengalaman yang pernah kubayangkan sebelumnya. Sampai pagi pikiranku tak bisa lepas dari hal itu. Aku hanya memandangi wajah istriku yang tertidur pulas seperti bidadari yang tak berdosa. Aku tahu semua itu dilakukannya di luar kemauan dan kesadarannya.

Benar saja, keesokan harinya ketika bangun istriku seolah-olah tak tahu kejadian-kejadian dahsyat yang telah terjadi sebelumnya.

“Ada apa, Mas?” tanya Hani ketika bangun dan melihat aku sedang memandanginya.

“Entahlah. Yang kutahu kau sedang hamil, sayang….” jawabku yang memang bingung tak tahu harus berkata apa.

“Benarkah? Tahu dari mana kau, Mas..?”

“Percayalah…..”

Aku tersenyum mengangguk. Kupeluk istriku dengan erat. Aku tak mau memikirkan apa yang telah terjadi terhadap istriku. Yang kumau hanyalah aku tak ingin kehilangan dia karena aku sangat mencintainya. Kuciumi seluruh wajahnya, yang membuat istriku merintih kegelian.

(Pengalaman Sumanto – Kaligangsa, Dituturkan kepada Suripto)

TAMAT

Moci, Simpanse Tersayang

Filed under: seks sesama wanita, seks wanita dan hewan — klubhis at 1:26 am on Sunday, October 28, 2007

Copyright 2001, by 17th.com

(zoosex - woman/chimpanze, woman/dog, lesbian)

Namaku Herlin. Aku adalah seorang pegawai swasta di sebuah perusahaan jasa kontraktor di Sorong, Irian Jaya. Ibuku dari Solo dan Papa dari Manado. Sudah hampir 4 tahun aku tinggal di Sorong, Irian Jaya. Tadinya aku sekedar ikut suamiku yang kebetulan Pegawai Negeri di Dinas Kehutanan yang dipindahkan bertugas di Sorong. Daripada menganggur, setahun setelah kami pindah aku melamar kerja dan ternyata diterima. Mas Johan, suamiku pun tidak keberatan kalau aku bekerja. Hitung-hitung cari pengalaman, katanya.

Kisahku ini mungkin agak menggelikan dan menjijikkan, tetapi ini bukan basa-basi loh..! Di kota yang terbilang indah tetapi sepi ini, aku mempunyai seorang teman akrab, Susan namanya. Susan itu istri Marcel, teman sekantor suamiku. Nah, jika suamiku dan Marcel sedang tugas di luar Sorong, biasanya Susan menginap di rumahku. Atau kadang aku yang menginap di rumahnya. Kami pun jadi sangat akrab seperti saudara. Maklum, kami juga sama-sama belum dikaruniai anak, jadi rasa senasib terasa benar di antara kami.

Cerita ini berawal saat bulan Juni 2 tahun lalu, Mas Johan dan Marcel, suami Susan dapat panggilan pendidikan di Denpasar. Kami pun memutuskan bahwa aku lah yang harus menginap di rumah Susan selama dua minggu. Hari-hari pertama tidak ada yang ganjil bagiku. Rumah Susan menyenangkan. Maklum suaminya yang hobi mengoleksi hewan langka begitu pandai menata rumahnya.

Ada dua binatang kesayangan Marcel yang juga kesayangan Susan. Blacky si anjing herder jantan dan Moci si simpanse, jantan pula. Blacky anjing yang pintar dan Moci pun Simpanse yang cerdik, jadi mereka tetap akur. Saking sayangnya Susan dan Marcel pada mereka, mereka dibiarkan terlepas tidak terikat, apalagi dikurung.

Nah, suatu sore, sepulang aku dari kantorku, aku langsung mandi. Susan yang katanya lagi kangen berat sama Marcel tengah asyik nonton VCD. Tidak tahu apa filmnya, tetapi yang jelas Susan suka drama yang romantis. Usai mandi aku menemani Susan menonton VCD. Tentu saja Moci dan Blacky setia menemani kami.

“Wuih seriusnya. Film apaan sih San..?” tanyaku.

“Dramanya Robert de Niro nih, Lin. Lagi seru. Eh, tadi si Ivon kemari ngasih titipan buat kamu, tuh ada di meja tengah..!” jawab Susan sekaligus memberitahuku kalau si Ivon memberikan titipan.

Ivon itu kenalan baruku, pemilik Salon Ivon. Dan ternyata yang dibawanya adalah titipan Mas Johan, VCD porno, he.. he.. he..!

“Apaan tuh Lin..?” tanya Susan saat aku membuka koran bungkusan VCD itu.

“Eh, ini San.. titipannya Mas Johan. Film BF..” jawabku sekenanya.

Tanpa basa basi, Susan langsung merebut 3 keping VCD porno itu dari tanganku.

“Kita nonton yuk..! Buat hiburan..” katanya.

Yah, sore itu 3 film BF kami lihat bersama-sama, Moci dan Blacky seperti biasa menemani kami di dalam kamar.

Malam harinya, setelah makan malam, rasanya aku mengantuk sekali. Aku pun langsung tidur. Aku terjaga sekitar pukul 12 malam, biasa, kebelet pipis. Eh, tiba-tiba aku sadar kalau si Susan tidak ada di sisiku. Kemana ya..? Ah, aku langsung saja ke kamar mandi untuk pipis. Setelah itu baru aku cari Susan. Aku mencarinya hingga ke dapur tetapi tetap tidak ada.

Aku sedikit tersentak ketika melihat bayangan di ruang kerja Marcel. Aku juga mendengar erangan Susan. Sepertinya lagi dilanda birahi yang sangat tinggi. Aku mendekat ke arah pintu ruangan itu, dan kuintip dari lubang pintu. Astaga, dalam keremangan itu aku melihat Susan yang sudah tidak berbusana tengah dicumbui oleh Moci, simpanse kesayangannya.

“Ohh.. hsst.. nggghh.. Moci sayankhhh..” ceracau Susan tidak karuan.

Moci yang tingginya sekitar 160 cm dan berbadan besar itu tengah mengarahkan mulutnya ke selangkangan Susan. Susan sendiri matanya terpejam dan mengangkangkan kakinya sambil tiduran. Ihh serem..!

Aktifitas Moci makin menggila. Susan dibopongnya dan dibantingnya kembali ke sofa sehingga posisi Susan jadi membelakanginya. Lalu.. wow..! Batang penis Moci yang sudah mekar membesar itu langsung disodokkan ke arah liang senggamanya Susan.

“Ahhh.. hhsst… ayoo Moci..!” perintah Susan. Bagaikan budak yang baik, Moci langsung memompa pantatnya maju mundur sehingga batang kemaluannya yang berbulu menerobos masuk keluar vagina Susan.

“Oarghhk.. rgggkkk..” Moci mengerang ganas.

Susan terpontang-panting, kepalanya bergoyang-goyang. Kupikir, pastilah Susan merasakan kenikmatan luar biasa dari penis Moci. Aku yang melihat adegan Moci dan Susan menjadi tidak kuasa menahan gejolak yang mulai menjalari tubuhku.

Ah.. bersetubuh dengan hewan..? Tanpa sadar aku meraba-raba sendiri payudaraku. Lalu tanganku menyusup ke selangkanganku yang memang sudah tidak terbungkus (kalau tidur aku memang malas pakai CD dan Bra).

“Ooohh.. nikmatnya..” sambil mataku tetap memandangi tubuh Susan yang tengah digagahi Moci.

Tapi tiba-tiba aku dikejutkan oleh jilatan-jilatan halus di betisku. Astaga.. si Blacky tengah menjilati betisku. Aku ingin marah tetapi saat itu aku merasa kenikmatan tersendiri dari lidah Blacky. Aku pun membiarkan Blacky menjilati betisku dan mataku kembali ke lubang pintu, melihat Susan dan Moci.

Susan kini sudah ganti posisi. Kulihat dia telentang di sofa, sementara Moci menggenjotnya dari atas.

“Teruuss, Moci sayang.. aku kenikmataaann niiih..!” desah Susan.

Pemandangan di dalam ruang kerja Marcel itu membat birahiku segera memuncak. Apalagi jilatan Blacky sudah mulai naik hingga ke belahan pantatku yang memang menjorok ke belakang, karena aku sedang mengintip. Blacky nampaknya tengah birahi pula, pikirku.

“Hiissst.. Blacckkiiih..” desahku tanpa sadar.

Blacky memang pintar menaikan birahiku. Daerah betis hingga belahan pantatku terus saja dijilati lidahnya yang berstruktur agak kasar. Lama-lama aku sudah tidak konsentrasi lagi dengan Susan dan Moci.

Aku melangkah perlahan ke kamar tidur, sedangkan Blacky terus mengikutiku sambil menjilati pahaku. Kadang jilatan itu sampai juga ke vaginaku yang mulai berlendir. Aku duduk di tepi ranjang dengan kaki ternganga lebar. Kubiarkan Blacky kini menjilati vaginaku dengan leluasa.

“Lakukanlah Black.. aku milikmu sayang..!” rintihku.

Blacky semakin agresif menjilati vaginaku. Yang kurasakan saat itu tulang-tulangku seakan luluh lemas dan ingin segera menuju puncak kenikmatan.

“Ohhh.. Black.. sssttt.. yyeaahh..” desahku nikmat.

Kemudian mendadak Blacky berhenti beraksi.

“Grrrhhkkk..” dia menggumam seperti marah padaku.

Mulanya aku agak takut tetapi aku segera mengerti. Blacky rupanya ingin cepat-cepat menyetubuhiku. Aku pun segera turun dari ranjang dan merangkak membelakangi Blacky. Tidak lama kemudian Blacky mengangkat dua kaki depannya dan menekan pinggangku. Kini posisi kami layaknya sepasang anjing yang akan kawin.

“Auuhhhssstt.. ohhh..” desahku ketika merasakan ada benda yang agak kasar menerobos masuk di lubang senggamaku. Blacky memang sudah birahi dan langsung memompa kemaluanku dengan batang kemaluannya yang dua kali lebih besar dari milik Mas Johan suamiku. Vaginaku terasa sesak dan penuh oleh kemaluan anjing Herder itu.

Lima belas menit kemudian.

“Ohhh.. Blacky sayanggkkkhh.. aku keluar sayanghkkk..” teriakku histeris saat merasakan seluruh otot vaginaku berkontraksi cepat. Yaaa, aku orgasme. Tidak lama kemudian aku terkulai lemas seperti bersujud. Blacky masih aktif memompaku. Aku tersadar, kini posisi Blacky membelakangiku. Kami saling adu pantat, dengan kelamin bertemu (seperti anjing kawin itu lho).

Dalam keadaan tak berdaya, tiba-tiba pintu terbuka dan kudengar suara teriakan Susan.

“Ehh.. Herlin.. Kamuu..?” Susan kaget saat mendapatiku dalam posisi kawin anjing begitu.

Aku pun kaget tapi kupikir tak ada yang perlu disembunyikan. Aku tahu Susan pun melakukan hal yang sama dengan Moci.

“Kamu juga kan San..? Sama si Moci..?” jawabku kelelahan.

Susan pun tersenyum penuh pengertian.

“Mmmh, tadi kamu lihat aku ya…?”

Susan mendekatiku. Dibelainya rambut dan tubuhku yang masih nungging lemas tak berdaya. Tampak jelas ia mengamati dengan kagum penis Blacky yang terkunci di dalam vaginaku. Aku pun merasa tenang dan puas.

Ketika alat kelaminku dan Blacky akhirnya terpisah, aku dan Susan saling berciuman seperti sepasang kekasih. Padahal, sumpah, kami tak pernah melakukan hal seperti itu sebelumnya…! Karena sama-sama capek, kami berdua tidur berangkulan dalam kondisi bugil.

Paginya kami mandi berdua membersihkan sisa persetubuhan kami dengan hewan-hewan piaraan Susan dan Marcel. Awalnya Susan cuma pamit padaku saat akan pergi ke kamar mandi tapi, entah gimana, spontan aku berkata.

“San, kita mandi bareng aja yuk…?”

Susan cuma membelalakkan matanya sambil tersenyum lebar. Ia pun langsung mengiyakan dan menarik lenganku untuk bangun dari tempat tidur. Sambil mandi, tak lupa kami kembali saling bercumbu dan memuaskan hasrat seks kami. Kali ini Moci dan Blacky tentu saja tak ikut serta.

Sejak saat itu, selama dua minggu suami kami pergi pendidikan ke Denpasar, kami selalu dapat menuai kenikmatan dari binatang kesayangan Marcel dan Susan itu. Di samping kami berdua pun mulai menikmati hubungan lesbian kami. Yah.. hitung-hitung selingkuh tidak berisiko lah..!

TAMAT

Sensasi Seks Keroyokan

Filed under: seks di luar nikah — klubhis at 5:24 am on Saturday, October 27, 2007

Copyright 2004, by KHISMistress (klub_his@yahoo.com)

(slutwife, gangbang)

Gara-gara terjebak nafsu untuk berselingkuh, malah membuatku ketagihan. Dulu aku puas ngeseks hanya dengan satu pria. Sekarang, aku lebih puas dengan ngeseks ramai-ramai. Bukan lagi dengan satu pria tentunya, melainkan lima pria sekaligus, aku baru puas.

Aku seorang wanita berumur 30 tahun, ibu dari dua orang anak. Tentunya statusku nikah dengan seorang suami. Kami telah terikat perkawinan selama tujuh tahun. Aku nikah setelah berhasil meraih gelar kesarjanaanku di kota Bandung.

Suamiku normal-normal saja, demikian juga dengan hubungan seksku. Aku melakukannya sekitar 2 atau 3 kali seminggu dengan suamiku. Namun semuanya berubah ketika aku mengalami suatu hal yang tidak kuduga sebelumnya pada tiga bulan yang lalu. Ternyata kemampuan seksku lebih dari yang kuduga sebelumnya.

Aku biasa dipanggil Ratih. Tinggi badanku sekitar 156 cm dengan berat 49 kg. Ukuran BH-ku 34C, pinggulku yang agak besar berukuran 100 cm semakin menonjol dengan pinggangku yang hanya 58 cm itu. Walaupun dari rahimku telah terlahir dua orang anakku, bodyku sih oke-oke saja. Hampir tidak ada perubahan yang mencolok.

Kembali pada kejadian yang gila. Mula-mula aku bertemu temanku, Merry saat aku sedang berbelanja di sebuah mall. Ia adalah sobatku sewaktu di SMA dulu. Saat itu ia bersama dua orang teman laki-lakinya, yang langsung dikenalkannya kepadaku. Mereka bernama Yanto dan Andi. Mereka ternyata adalah teman-teman yang enak diajak bicara. Akhirnya kami pun menjadi akrab. Siang itu kami melanjutkan obrolan sambil makan di sebuah restoran.

Setelah pertemuan itu, ternyata Yanto sering menelepon ke rumahku walaupun ia sudah tahu bahwa aku ini seorang istri dengan dua orang anak. Dalam pembicaraan telepon, ia memang sering mengeluarkan rayuan gombalnya kepadaku tapi tetap ia menjadi teman bicara yang enak.

Ia berusaha mengajakku makan siang dengan gigihnya. Hal itu yang membuatku menyerah juga. Akhirnya aku menyetujuinya juga. Syaratnya, makan siangnya harus ramai-ramai.

Aku, Merry, Yanto, dan Andi bertemu di tempat yang sudah kami sepakati bersama. Bersama kedua teman cowok kami, ikut serta pula tiga orang teman mereka yang lain: Eko, Benny, dan Adi. Mereka semua rata-rata berusia delapan tahun lebih tua daripada aku dan Merry.

Kami makan siang bersama di sebuah restoran yang ada fasilitas karaokenya. Kami makan dengan ramainya sambil berkaraoke. Memang aku pun senang berkaraoke.

“Ayo, Rat… nyanyi lagi…” mereka menyemangatiku kala aku melantunkan lagu. Ternyata kelima cowok keren itu merupakan teman yang enak untuk gaul. Wawasan mereka luas dan menyenangkan. Akhirnya kami cepat menjadi akrab. Ternyata, baru kusadari nanti bahwa inilah kekeliruanku….

Seminggu kemudian aku diundang lagi, kali ini oleh Andi, untuk makan siang dan berkaraoke lagi. Tanpa pikir panjang dan tanya-tanya lagi, aku pun langsung menyetujuinya. Aku bolos masuk kantor setelah makan siang, lalu pergi ke tempat karaoke bersama mereka.

Nah, di saat itulah terjadi sesuatu yang tidak kuduga. Ternyata aku dibawa ke tempat karaoke yang khusus untuk berkaraoke saja. Bukannya sebuah restoran. Tempatnya berupa sebuah kamar tertutup dengan kursi panjang. Kali ini Merry pun tidak ikut. Jadi hanya aku dengan kelima cowok itu.

Karena sudah telanjur masuk ke sana, akhirnya kucoba menenangkan diri. Walaupun aku agak deg-degan juga pada awalnya. Kenyataannya, akhirnya suasana menjadi seru ketika secara bergantian kami berkaraoke.

Aku pun dipesankan minuman whisky-cola yang membuat badanku jadi hangat. Akhirnya mereka meminta berdansa denganku saat salah satu di antara mereka bernyanyi. Saat melantai itulah, lama-kelamaan mereka berani merapatkan dadanya ke tubuhku dan menekan serta menggesek-gesek payudaraku.

Anehnya, aku malah diam dan mencoba menikmati apa yang mereka perbuat kepadaku, yang lama-lama membuatku terbakar dan menikmati permainan ini. Mereka bergantian berdansa denganku.

“Ratih, badanmu hot sekali,” ujar Yanto berbisik di telingaku sambil bibirnya mencium belakang telingaku, membuatku merinding nikmat… Tangannya lalu tanpa malu-malu lagi meremas payudaraku. Aku pun terangsang hebat….

“Aahhh… jangaaannnn…” kataku ketika Yanto dengan beraninya membuka kancing blusku dan menyusupkan tangannya ke dalamnya… Tangannya meremas dan memilin puting payudaraku dengan semakin hotnya… Aku sebenarnya masih menyimpan sedikit rasa malu karena semua aksi kami ditonton oleh yang lainnya dengan tatapan penuh nafsu….

Anehnya, seperti dibius, tubuhku tidak berontak. Tanganku sama sekali tidak berusaha melepaskan tangan Yanto yang terus menggerayangi payudaraku yang kini terbuka lebar…

“Mmmhhh…” rintihku penuh kenikmatan. Hanya itu yang ternyata sanggup keluar dari bibirku…

Yanto akhirnya mengulum bibirku dan menindih rapat-rapat tubuhku di atas sofa.

Aku benar-benar lupa diri ketika jari-jemari Yanto bergerilya di dalam celana dalamku. Ia terus menggelitik bibir lubang vaginaku yang sudah basah dan rasanya menebal itu.

Spontan yang lainnya pun ikut-ikutan. Dengan liar akhirnya kelima cowok itu mengerubuti tubuhku.

Akhirnya, tahu-tahu tubuhku sudah bugil tanpa sehelai benang pun dan digeluti bersama oleh mereka. Yantolah yang lebih dahulu menusukkan senjatanya ke dalam lubang kemaluanku. Lalu Adi memasukkan senjatanya ke dalam mulutku. Andi mengisap puting kiri payudaraku sambil membimbing tangan kiriku untuk mengelus-elus senjatanya. Sementara itu Eko mengisap puting yang sebelahnya sambil melakukan hal yang sama pula terhadap tangan kananku. Terakhir, Benny menggosok-gosokkan senjatanya ke wajahku.

“Aacchhh….” aku mendapat orgasme pertama ketika Yanto sedang asyik-asyiknya menggenjot tubuhnya di atas tubuhku. Spontan, kedua tanganku meremas penis Andi dan Eko yang ada dalam genggamanku dengan keras…. Aku sendiri tak bisa mengeluarkan lenguhan kenikmatanku secara lepas karena penis Adi yang hangat itu dengan serunya terus bermain di mulutku.

Adi yang tahu aku baru saja orgasme hanya menyeringai kepadaku. Tampaknya ia pun semakin semangat memompa mulutku….

“Ratiih…” desah Yanto menggeliat ketika memuntahkan maninya di dalam lubangku. Hangat dan terasa kental memenuhi lubang kemaluanku. Dipegangnya pantatku erat-erat supaya semua spermanya masuk ke dalam tubuhku…. Adi tambah semangat mengocok senjatanya di dalam mulutku.

Setelah Yanto selesai, posisinya langsung diganti Benny yang sejak tadi hanya mengosok-gosokkan senjatanya yang panjang dan besar di wajahku.

Langsung ditancapkannya ke dalam lubangku yang hangat, sudah penuh dan licin dengan cairan milik Yanto. Benny begitu semangatnya menyetubuhiku.

“Mmmmphh, aghhh….” tubuhku bergetar menggeliat.

Bayangkan… payudaraku dihisap putingnya oleh Eko dan Andi seperti dua bayi besar. Sementara lubang kemaluanku mulai dihunjam oleh senjata Benny dengan ganasnya. Di mulutku, Adi akhirnya menyemprotkan cairannya dengan deras dan langsung kuhisap kuat-kuat.

“Aaaacchhh….” air mani Adi yang terasa hangat asin seperti kuah oyster masuk ke dalam tenggorokanku.

Bersamaan dengan itu, Benny juga menyemprotkan maninya di lubang vaginaku. Multiorgasme…. Aku sudah mendapatkannya tiga atau empat kali dan masih ada Eko dan Andi yang belum kebagian menyemprotkan cairannya.

Tubuh Adi dan Benny berkelojotan dan akhirnya terhempas.

Andi menggantikan posisi Adi. Penisnya yang bengkok ke atas terasa penuh di mulutku.

Eko menepis Benny dari atas tubuhku. Untuk yang ketiga kalinya, lubang vaginaku dimasuki oleh orang yang berbeda…. Ternyata senjata milik Eko lah yang paling panjang dan besar. Aku khawatir kalau penis Eko agak susah untuk masuk ke dalam vaginaku.
Syukurlah, ternyata tak sesulit yang kubayangkan karena lubang vaginaku telah
penuh dengan cairan dari dua orang yang terdahulu.

Benar saja, terasa sangat mantap dan nikmat ketika senjata Eko menggesek lubangku yang sudah terasa panas dan semakin tebal rasanya. Napasku sampai terengah-engah dibuatnya…

“Rat…. iseeepp yang kuaaattt….” ternyata Andi tidak kuat dengan isapan mulutku. Ia akan segera mencapai klimaks. Aku pun segera mematuhi perintahnya dengan mengisapnya lebih kuat lagi….

Penis Andi pun memuncratkan cairan maninya di dalam mulutku. Terasa air mani Andi lebih strong aromanya, lebih hangat, lebih kental, dan lebih banyak memenuhi mulut dan tenggorokanku. Aku sampai agak gelagapan karena mulutku jadi penuh dan hampir tersedak…. Namun aku berusaha untuk tenang… Pelan-pelan kutelan sperma Andi yang membludak. Sementara bibirku tetap mencengkram penis Andi supaya tak lepas…. Setelah penis Andi kering benar dan mulai mengkerut, barulah aku melepaskannya…. Ia pun lalu tergeletak di atas kepalaku.

Sekarang tinggal aku dan Eko…. Eko pun lalu mengubah posisinya menjadi ‘missionary position’. Sambil penisnya terus mengocok kemaluanku, tubuhnya pun menindih tubuhku. Wajah kami pun berhadap-hadapan dekat sekali… Sambil terus beraktivitas, Eko tersenyum padaku.

“Rat, kamu hebat sekali…” katanya.

Aku pun tersenyum malu.

“Oh, Eko…” bisikku. Lalu seperti sepasang kekasih, kami pun saling berciuman bibir.

Tak lama kemudian, Eko juga menggeliat menyemburkan cairannya ke dalam lubang kemaluanku. Tubuhku terasa lemas tetapi bergetar kuat mengiringi muncratnya cairan Eko. Eko semakin mendorong pangkal pahanya ke pangkal pahaku supaya cairannya masuk semua ke tubuhku… Rasanya aku sudah orgasme enam kali ketika akhirnya Eko menggelepar dan terbaring tepat di samping tubuhku. Kami pun lalu berbaring telentang sambil berpelukan dan menikmati hasil persetubuhan kami….

Selesailah pertempuran besar antara aku dan kelima cowok siang itu di ruang karaoke. Walaupun ber-AC, namun udara saat itu tetap terasa panas. Badan kami bercucuran keringat. Apalagi aku, karena selain basah oleh keringatku sendiri, juga bercampur dengan keringat kelima cowok yang barusan menyetubuhiku…. belum lagi dengan tumpahan air mani mereka yang berceceran di seluruh bagian tubuhku….

Setelah itu, semuanya terdiam. Tak ada satu pun di antara kami yang saling bercakap. Beberapa cowok tertidur karena kelelahan. Akhirnya, beberapa puluh menit kemudian, kami pun berbenah-benah.

Celakanya, di kamar itu tidak ada kamar mandi. Akhirnya, aku hanya mengelap cairan kelima lelaki yang memenuhi lubang vaginaku dan menetes ke pahaku dengan bra dan celana dalamku saja. Lalu aku memakai bra dan celana dalamku yang agak basah dan lengket itu. Disusul dengan blouse, rok serta blazer yang tadinya bertebaran di lantai. Yang membuatku senang, Eko ikut membantuku berpakaian. Paling tidak, aku merasa dihargai dan tidak sekedar menjadi pemuas nafsu mereka…. Mereka pun segera memakai kembali baju dan celananya.

Jam lima sore, kami keluar dari karaoke itu. Berarti empat jam sudah kami berada di dalamnya karena kami masuk pada pukul satu siang. Sedangkan aku sendiri digilir oleh mereka lebih dari dua jam nyaris non-stop. Waah, aku kagum juga dengan daya tahanku…. walaupun rasanya kakiku pegal-pegal dan ngilu. Begitu juga selangkanganku dan mulutku….

Waktu melewati meja kasir rasanya aku malu juga. Walaupun kasir wanita itu tidak tahu apa yang terjadi di dalam tapi wajahku tetap terasa memerah. Make up ku telah berantakan dan aku bisa dengan jelas mencium kalau minyak wangiku telah berubah menjadi bau aroma air mani….

Kasir wanita itu tersenyum kepadaku. Mungkin ia bisa mengendus baunya… atau malah mungkin ia sedang membayangkan kejadian yang baru saja kualami. Sementara itu, di paha dan kakiku terasa mani mereka merembes mengalir keluar dari lubang vaginaku.

Untung sesampainya di rumah, suamiku belum pulang… Cepat-cepat aku ke kamar mandi membersihkan tubuh dan pakaianku.

Ternyata, malamnya suamiku menagih jatahnya juga… Untung aku sudah membersihkan badanku dan menyemprotkan minyak wangi untuk menghilangkan aroma sperma kelima cowok itu…

Walaupun komentar suamiku membuatku deg-degan, mudah-mudahan ia tidak curiga….

“Rat, punyamu kok rasanya lain banget… tebel…” bisik suamiku di telingaku…

“Terima kasih, ya… Enak…” lanjut suamiku setelah ia menyemprotkan cairannya beberapa menit kemudian. Lalu ia tertidur pulas di sampingku. Ia tidak tahu sudah jadi orang keenam hari itu yang memuncratkan cairannya untukku.

TAMAT

Tumbal

Filed under: seks di luar nikah, seks wanita dan hewan, seks alam gaib — klubhis at 8:19 am on Sunday, September 2, 2007

Copyright 2005, by Mario Soares (msoares_bombay@yahoo.com)

(Wanita dan Kera, Wanita dan Gendruwo, Keroyokan, Istri Selingkuh)

Sapto adalah seorang buruh pekerja bangunan lepas. Pria muda kelahiran sebuah dusun terpencil di Jawa Tengah ini terpaksa mengadu nasib ke Jakarta karena di daerah asalnya pun ia menganggur tak punya pekerjaan. Kekeringan yang berkepanjangan melanda kampung halamannya. Sawah-sawah tidak produktif lagi. Banyak petani yang kehilangan pekerjaannya, termasuk Sapto.

Di usianya yang kedelapan belas saat masih di kampungnya, ia telah menikahi seorang wanita cantik bernama Maya. Wanita yang usianya selisih dua tahun lebih muda ini adalah tetangganya sendiri di kampung. Sama seperti Sapto, Maya pun berasal dari keluarga yang sangat sederhana.

Walaupun kehidupan yang menanti di Jakarta belum menentu, Sapto nekat mengajak istrinya untuk pergi ke kota harapan itu saat usia pernikahan mereka masih seumur jagung. Ia malu terus-menerus membebani kedua orang tuanya maupun mertuanya yang sama-sama kekurangan.

Pria ini beruntung mendapatkan pekerjaan pada seorang kontraktor kecil-kecilan di daerah pinggiran ibukota. Sapto mengenal majikannya dari sesama temannya di kampung yang kebetulan pernah bekerja pada beliau. Dengan kemampuan seadanya, ia belajar menjadi kuli bangunan. Pekerjaannya pun tak tentu, bergantung pada order yang diterima majikannya.

Dengan penghasilan yang seadanya, tentu saja kehidupan Sapto dan Maya di kota yang keras itu masih tetap prihatin.

Kesulitan ekonomi semakin terasa setelah Maya melahirkan anaknya yang pertama, tepat dua tahun setelah kepindahan mereka ke Jakarta. Sapto pun semakin pontang-panting menghidupi keluarganya yang telah bertambah anggotanya.

Sapto sebenarnya beruntung memiliki istri seperti Maya. Wanita itu sangat sabar dan mau sepenuhnya mengerti kesusahan yang mereka alami bersama. Ia tak pernah mengeluh dan menuntut macam-macam. Walau ia pun tak mampu berbuat banyak untuk membantu suaminya, tak hentinya ia memotivasi suaminya untuk bersabar dan tidak tergoda menempuh jalan yang tidak benar dalam mengatasi kemiskinan mereka.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Keadaan ternyata berkembang jadi semakin sulit setelah majikan tempat Sapto bekerja bangkrut. Otomatis Sapto pun kehilangan satu-satunya mata pencahariannya. Dengan kemampuan yang terbatas, jelas ia mengalami kesulitan untuk mendapatkan mata pencaharian yang baru.

Dalam keadaan putus asa, Sapto mengambil jalan pintas. Suatu hari ia nongkrong dengan sesama temannya yang juga menganggur. Saat ngobrol, temannya menceritakan tentang pesugihan yang diyakini dapat memberikan pelakunya kekayaan yang melimpah ruah. Dari sekedar iseng, Sapto jadi mulai tertarik dengan cerita itu. Diajaknya temannya untuk sama-sama menjalani pesugihan tersebut.

Walaupun tertarik juga, temannya menolak untuk melakukannya. Ia takut karena syaratnya sangat berat. Begitu pula konsekuensi yang harus ditanggung jika syaratnya tak terpenuhi. Belum lagi mengingat cara itu adalah jalan yang dikutuk oleh agama.

Sapto yang telah buntu pikirannya tetap berkeras untuk mencobanya. Temannya yang telah mencoba mengingatkannya tak mampu berbuat apa-apa. Setelah dipaksa Sapto, temannya lalu menceritakan bagaimana cara melakukan pesugihan itu, yang disebut pesugihan Ki Edan.

Pesugihan itu harus dilakukan dengan memuja jin bernama Ki Edan. Tempatnya adalah di sebuah gua terpencil di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Dengan alasan mencari pekerjaan, Sapto pamit kepada istrinya untuk pergi ke luar kota selama beberapa hari. Dititipkannya anak dan istrinya kepada tetangganya.

Dengan berdebar-debar Sapto menemui juru kunci tempat itu untuk minta petunjuk dan bimbingan dalam menjalaninya. Sebelum melakukan itu, sama seperti yang telah dilakukan oleh temannya, si juru kunci mengingatkan Sapto akan semua konsekuensi yang harus diterimanya. Pria tua itu mengatakan bahwa Sapto masih dapat mundur saat itu seandainya ia masih ragu-ragu. Merasa kepalang tanggung, Sapto tetap menyanggupinya. Ia pun menjalani ritual yang disiapkan oleh si juru kunci untuk melakukan perjanjian dengan Ki Edan.

Ki Edan adalah sejenis jin tingkat tinggi yang memiliki kesaktian mandraguna. Usianya telah mencapai ribuan tahun. Berbagai macam manusia dari puluhan generasi sudah pernah ditemuinya. Ia hidup di tengah hutan Lawang bersama para pengikutnya. Pengikutnya berasal dari berbagai golongan jin dan hewan liar yang hidup di hutan itu. Ia tak akan membantu sembarang orang. Syarat yang ditetapkannya pun berat.

Saat melakukan ritual di dalam gua, Sapto pun berkesempatan untuk bertatap muka dengan jin itu.

Badan Ki Edan berwujud manusia tapi bagian paha ke bawah menyerupai kaki belakang seekor lembu. Tubuhnya yang jangkung tampak tegap didukung oleh badannya yang kekar dan berwarna gelap kemerahan. Wajahnya berbentuk segitiga dengan ujung dagu yang sangat lancip. Kedua matanya tajam dan berwarna merah. Sepasang tanduk besar menyerupai tanduk kerbau jantan menghiasi kepalanya yang gundul.

Sapto bergidik melihat penampakan jin tua yang mengerikan itu.

“Hai manusia, ceritakan apa yang kau mau,” suara jin tua itu terdengar menggema di dalam gua.

“A..a.. ku ingin mendapatkan kekayaan, Ki,” kata Sapto terbata-bata.

Mata Ki Edan yang tajam menatap dalam-dalam pada Sapto yang agak merinding.

“Kau tahu apa syaratnya?” tanya jin itu.

“Apa itu, Ki?” tanya Sapto gemetar. “Aku akan menyanggupinya…”

“Setiap purnama kau harus mempersembahkan mayat bayi yang baru saja dikuburkan…”

Sapto terdiam.

“Jika kau lalai…. Bukan hanya kekayaanmu yang akan kutarik kembali….” lanjut Ki Edan.

Sapto menanti lanjutan kata-kata jin tua itu dengan harap-harap cemas.

“…Melainkan juga orang yang sangat kausayangi akan kuambil….” Ki Edan menutup penjelasannya yang singkat.

“Baiklah, Ki…” jawab Sapto yang sudah gelap matanya menyanggupi.

Setelah perjanjian diikat, Sapto pun kembali ke Jakarta.

Aneh, tak lama kemudian Sapto pun mendapatkan rezeki. Ada orang yang menawarinya modal untuk membuka usaha. Sapto pun membuka warung dan bengkel. Usahanya ternyata maju sehingga dalam waktu singkat Sapto dapat mengembalikan modalnya dan memiliki sendiri seluruh usahanya. Kehidupan ekonomi mereka pun semakin membaik. Tentu saja Sapto tak pernah menceritakan peristiwa yang sebenarnya kepada Maya.

Sementara itu, setiap menjelang bulan purnama, Sapto memiliki kebiasaan baru. Ia akan mendatangi kuburan dan menggali makam bayi yang baru saja dikuburkan. Jasad bayi yang masih baru itu lalu dipersembahkannya kepada Ki Edan sebagai tumbal.

Bulan demi bulan pun berlalu. Semakin lama Sapto pun semakin merasa sulit untuk memenuhi janjinya. Bukan saja ia harus mencari mayat bayi ke daerah yang semakin jauh, penduduk pun mulai resah dan curiga dengan maraknya penggalian kuburan bayi yang baru meninggal. Akibatnya, Keamanan pun semakin diperketat. Ruang gerak Sapto pun semakin terbatas.

Sampai suatu ketika, Sapto akhirnya gagal memenuhi janjinya pada Ki Edan tepat pada malam bulan purnama yang ketujuh sejak perjanjiannya.

Saat itu sudah lewat tengah malam. Sapto merasa sangat gelisah karena tahu akan terjadi sesuatu. Maya yang saat itu sedang di sampingnya juga merasa curiga melihat gelagat suaminya yang dari tadi tampak menyembunyikan sesuatu. Wanita itu baru saja selesai menyusui anaknya yang sempat terbangun beberapa waktu yang lalu.

Tanpa ada tanda apa pun, Ki Edan tiba-tiba muncul diikuti oleh para pengikutnya. Walau sudah menduga hal itu, Sapto tetap saja merasa terkejut. Ia tak tahu harus mengatakan apa pada istrinya. Maya yang tak mengetahui pokok permasalahannya tentu saja tak kalah terkejutnya.

“Sapto, kau tahu apa yang telah kau lalaikan malam ini?” suara Ki Edan terdengar menggema di tengah malam yang hening.

Sapto hanya diam dengan tubuh gemetar dan tegang.

“Kalau kau tak mampu memenuhi janjimu dalam pesugihan ini, aku sudah mengatakannya dengan jelas apa yang harus kau bayar…”

“Aku akan mengambil nyawa anakmu sebagai tumbal…” kata jin tua itu mengingatkan.

“Atau akan mengambil istrimu untuk menjadi budakku di alam gaib sana… sebagai ganti atas semua kekayaan yang telah kuberikan padamu…”

Maya yang terkejut mendapati kenyataan itu tentu saja tak merelakan nyawa anak semata wayangnya diambil oleh Ki Edan.

“Mas Sapto…. Benarkah…?” tanya Maya seperti tak percaya sambil memandang ke arah suaminya. “Teganya kau… Jadi selama ini….?”

Ia tak mampu melanjutkan kata-katanya.

Sapto hanya menunduk. Ia tak berani membalas pandangan istrinya. Tubuhnya terasa gemetar.

“Baiklah, sekarang aku akan mengambil anakmu…” kata Ki Edan sambil melangkah mendekati ranjang tempat anak Sapto dan Maya sedang tidur.

Maya sangat terkejut mendapati kenyataan anaknya akan diambil secara paksa. Dihalanginya jin tua yang besar itu dalam langkahnya menuju ranjang. Naluri keibuannya untuk melindungi anaknya serta merta muncul.

“Aku tak rela nyawa anakku hilang demi melunasi hutangmu…” tegas wanita itu sambil memandang suaminya.

“Biar aku saja yang ikut dia untuk menebusnya…”

Sejenak setelah mengucapkan kata-kata itu, Maya sempat terkejut. Bagaimana bisa ia membuat keputusan seperti itu? Keputusan yang spontan dikeluarkannya untuk melindungi jiwa putri satu-satunya. Dalam hati ia sebetulnya sangat khawatir akan nasibnya jika mengikuti setan itu. Bagaimanapun, saat itu ia tak melihat cara lain sebagai jalan keluarnya.

“Baiklah, tak masalah bagiku,” kata Ki Edan sambil memeluk bahu Maya yang ada di dekatnya.

“Anakmu atau istrimu, salah satu saja…. Sudah cukup bagiku…” kata Ki Edan.

Sapto tak mampu berkata apa-apa. Mulutnya serasa terkunci.

Ki Edan lalu melucuti seluruh pakaian Maya. Maya sama sekali tak menolak… Maya tak tahu mengapa ia tak melawan saat direndahkan seperti itu…. Apakah ia berada di bawah pengaruh hipnotis?

Sapto hanya bisa memandangi peristiwa itu tanpa daya sama sekali. Begitu istrinya telah bugil, ia melihat Ki Edan mengeluarkan seuntai rantai yang besar lalu mengalungkannya ke leher wanita cantik itu…

Siluman sakti itu kemudian menyerahkan rantai itu kepada seekor kera jantan besar yang setia mengikutinya. Entah dari mana datangnya, segumpal asap yang tebal tiba-tiba muncul memenuhi ruangan. Ki Edan pun berjalan menembus asap itu. Diikuti oleh si kera besar yang menuntun istrinya… menghilang ditelan kegelapan….

Sapto hanya bisa memandang seluruh kejadian itu sambil menangis… Kedua kakinya benar-benar kaku tak bisa digerakkan. Sekujur badannya gemetar menahan perasaan takut, geram, dan tak berdaya yang bercampur aduk. Beban yang demikian beratnya membuatnya terjatuh. Perlahan-lahan asap pun menghilang tanpa bekas. Sama seperti istrinya yang raib dibawa Ki Edan… Pandangannya pun menjadi gelap. Ia pun pingsan tak sadarkan diri.

Maya memulai kehidupan barunya di alam jin. Setelah melalui asap tebal yang mengantarkannya meninggalkan alam manusia, sampailah ia di kediaman jin tua itu. Tempat tinggal Ki Edan ada di tengah-tengah hutan. Hutan yang aneh dalam pandangannya sebagai manusia. Semua tumbuhan dan hewan yang ada di situ tak pernah dijumpainya di alam manusia. Semuanya dari jenis yang berbeda…

Pondok Ki Edan terbuat dari kayu dan menyatu dengan sebuah pohon besar yang dikelilingi oleh sepetak lapangan yang agak luas. Lapangan yang merupakan pekarangan rumah itu menjadi pemisah antara rumah dengan hutan lebat yang mengitarinya.

Ki Edan membawa Maya berkeliling meninjau rumahnya yang cukup besar dan pekarangan di sekelilingnya. Dijelaskannya satu per satu tugas yang akan menjadi kewajibannya sehari-hari.

Dengan penuh perhatian wanita itu menyimak setiap penjelasan dan instruksi dari tuan barunya. Dengan hati yang berdebar-debar ia menunggu-nunggu sesuatu dari penjelasan jin tua itu.

Sampai Ki Edan selesai menjelaskan, apa yang ditunggunya dengan harap-harap cemas ternyata tak juga keluar.

Jelas bahwa Ki Edan sama sekali tak berniat untuk ‘menyentuh’-nya. Padahal Maya tadinya mengira ia juga harus melayani jin itu di tempat tidur. Wajar saja jika ia mengira demikian. Saat ia diambil dari suaminya, Ki Edan telah melucutinya hingga bugil. Begitu pula saat memberikan penjelasan, Ki Edan telah menegaskan padanya bahwa ia tak diperkenankan mengenakan sehelai kain pun untuk menutupi tubuhnya selama berada di alam gaib itu. Suasana yang dibangun memang seolah mengarahkannya untuk menjadi seorang pelayan seks.

Nyatanya ia hanya harus melayani Ki Edan seperti seorang pembantu rumah tangga atau baby sitter. Ia tiap hari harus memasak makanan untuk Ki Edan, membersihkan rumahnya, mencuci pakaiannya, menyiapkan segala peralatan dan kebutuhan sehari-harinya… tapi tidak melayani nafsu birahinya…

Seolah bisa membaca pikiran wanita itu, Ki Edan menceritakan penyebabnya. Rupanya jin tua itu sedang menjalani ritual tertentu yang tidak memungkinkannya untuk melakukan hubungan seks sama sekali.

Sejenak Maya menarik nafas lega… Memang sejak dibawa oleh Ki Edan ia telah mengantisipasi jika dirinya akan dijadikan sebagai pelayan seks. Toh ia tetap merasa gentar juga saat semakin sering berdekatan dengan Ki Edan dan dapat melihat ukuran penisnya. Alat kelamin itu menggelantung-gelantung seperti belalai gajah di balik kain tipis yang menutupi pangkal pahanya…

Sayangnya kelegaan wanita itu tak berlangsung lama. Ki Edan rupanya menyadari sosok wanita yang ada di hadapannya itu benar-benar cantik dengan postur tubuh yang sangat indah. Sangat mubazir jika tidak dimanfaatkan. Dengan demikian, bukan berarti Maya benar-benar bebas dari kewajiban yang berhubungan dengan seks…. karena ternyata Ki Edan akhirnya menghadiahkan Maya kepada Wanara, kera jantan piaraannya…

Dengan demikian kera peliharaan Ki Edan lah yang akhirnya ketiban untung mendapatkan Maya.

Itu pun sebenarnya sudah lebih dari cukup bagi Maya. Sudah jadi pengetahuan umum, birahi seekor hewan lebih tinggi frekuensinya daripada seorang manusia.

Belakangan Maya belajar bahwa lima kali hubungan seks adalah jatah minimal yang harus diberikannya kepada hewan itu tiap harinya. Maya pun jelas harus bersusah payah beradaptasi dengan kebiasaan itu. Dulu saat masih di alam manusia, tidak setiap hari ia harus melayani Sapto suaminya.

Sekarang dengan frekuensi hubungan seks minimal lima kali sehari, Maya biasanya hanya dapat ikut menikmati sampai hubungan yang kedua atau ketiga. Selebihnya, dirasakannya semata-mata untuk memenuhi kewajibannya melayani birahi kera itu.

Untunglah Ki Edan pun mengamati hal itu. Suatu hari ia memberikan wanita itu ramuan untuk meningkatkan daya tahan dan nafsu seksualnya supaya ia bisa mengimbangi pasangan barunya itu…

“Minumlah…” kata Ki Edan pada Maya.

“Apa ini, Ki…?” tanya Maya sambil melihat minuman berwarna kecoklatan yang disodorkan padanya.

“Jamu ramuanku… untuk menambah daya tahan tubuhmu dan meningkatkan birahimu…” kata Ki Edan tersenyum.

“Aku lihat kau agak kewalahan melayani si Wanara…” lanjutnya.

Maya tersipu malu. Mukanya yang putih bersemu kemerahan seperti udang rebus. Ia baru sadar bahwa Ki Edan mengamati setiap aktifitasnya bersama kera itu. Memang benar apa yang dikatakan oleh majikannya itu.

“Minumlah, tak usah ragu… Setelah kau rutin minum ramuan ini… bahkan nanti kau lah yang akan minta jatah kepada keraku itu…” jelas Ki Edan.

“Sekarang ini kan dialah yang selalu mendatangimu untuk minta bersetubuh… Nanti bisa terbalik…” kata jin tua itu sambil terkekeh.

Dalam hati Maya agak sangsi dengan kata-kata Ki Edan. Benarkah bisa seperti itu? Sekarang saja rasanya ia sudah sangat kewalahan melayani nafsu seks kera jantan itu. Alat kelaminnya pun rasanya hampir-hampir lecet karena terus-menerus digunakan sepanjang hari…

“Kita lihat saja nanti kalau kau tak percaya,” lanjut Ki Edan.

“Kalau alat kelaminmu yang terasa lecet, itu masalah biasa… karena kau selama ini tak menggunakannya secara maksimum,” jelas Ki Edan seolah bisa membaca pikiran Maya.

“Seperti kau berolah raga, kau harus membiasakannya sedikit demi sedikit… Kemampuan tubuhmu akan beradaptasi sendiri nantinya…”

“Memang aku tahu, selama ini suamimu jarang memanfaatkanmu semaksimal mungkin…” goda Ki Edan.

Maya pun kembali tersipu malu. Ia akhirnya bisa menerima penjelasan Ki Edan. Lagipula apa salahnya ia mencoba ramuan itu. Jika benar apa yang dikatakan jin tua itu, bukankah manfaatnya juga bagi dirinya sendiri. Karena itu ia pun memutuskan meminumnya tanpa banyak pikir lagi.

Rasanya bercampur antara pahit dan pedas. Terasa hangat di tenggorokan seperti arak.

“Minumlah ramuan itu tiap hari. Cukup sekali saja sehari. Nanti kutunjukkan tempat penyimpanannya,” kata Ki Edan setelah wanita itu menghabiskan isi gelasnya.

Maya hanya mengangguk sambil tersenyum berterima kasih.

Baru saja Maya meletakkan kembali gelasnya di atas meja, tiba-tiba terdengar bunyi pintu dibuka dengan keras. Ternyata Wanara telah berdiri di muka pintu dengan wajah yang beringas menahan nafsu… Maya tersenyum melihat kekasih barunya itu… Ia tahu kalau kera itu bermaksud meminta jatah padanya.

“Maaf, Ki Edan… Permisi dulu,” katanya meminta izin pada jin tua itu sambil geli melihat raut wajah kera itu yang tampaknya sudah tak kuat lagi membendung nafsunya….

“Waah, panjang umur… baru saja kauminum ramuanku, ternyata sekarang kau bisa praktekkan langsung… Baiklah, selamat bersenang-senang….” jawab Ki Edan penuh pengertian.

Wanara bergegas melompat mendekati gendaknya. Tangannya yang panjang kekar dan berbulu menggapai ke atas menyentuh punggung Maya yang telanjang lalu mendorongnya. Maya yang sudah mengerti segera mengubah posisinya dari berdiri jadi menyentuh lantai dengan kedua lutut dan tangannya sambil membelakangi kera itu. Wanita itu mengambil posisi untuk disebadani oleh Wanara dari belakang, sebagaimana layaknya sepasang hewan yang akan kawin.

Maya memang selalu siap untuk disetubuhi setiap saat karena selama tinggal di kediaman Ki Edan, ia tak pernah mengenakan pakaian sehelai pun, alias senantiasa bugil… Satu-satunya aksesori yang menempel di tubuhnya adalah seuntai kalung yang mirip kalung anjing. Itu dikenakannya sebagai penanda bahwa ia adalah piaraan Ki Edan. Wanara pun mengenakan kalung yang sama pula.

Maya tersenyum nikmat ketika merasakan penis kekasihnya yang besar dan tumpul memasuki dirinya… Inilah yang memang ditunggu-tunggunya… Terasa panas dan kasar…

Maya mendesis merasakan kekasihnya menyentuh dan memasuki dirinya…

Maya merasakan rambutnya yang panjang terurai itu ditarik Wanara ke belakang… Ia pun memasrahkan sepenuhnya tubuhnya kepada kera jantan yang sedang birahi itu… Sementara tangannya memegangi rambut Maya, pinggul Wanara mulai bergerak maju mundur menggesekkan penisnya di dalam alat kelamin wanita itu…

Maya pun sesekali tertahan nafasnya. Matanya merem melek sambil mendesis-desis merasakan kenikmatan itu…

Beberapa waktu kemudian, Wanara meningkatkan genjotannya pada tubuh wanita itu. Demikian kuatnya hingga tubuh putih mulus itu terhempas-hempas… Kedua tangan Wanara yang kekar lalu memegangi pinggang Maya supaya tak terlepas. Maya pun tak kuat untuk tak mengeluarkan suara-suara erangan dan jeritan nikmat sebagai reaksi genjotan itu… Vagina Maya terasa makin panas… Runtutan orgasme pun tak terelakkan lagi… Sementara kedua tangannya mencengkeram lantai, jeritan-jeritan nikmat pun terlontar dari mulutnya…

Ki Edan hanya tersenyum mengamati tingkah polah kedua makhluk yang berbeda spesies dan berbeda kelamin itu. Lalu ditinggalkannya sepasang kekasih yang sedang kawin di ruang tamu itu…

Wanara adalah seekor kera jantan bertubuh kekar. Bulu-bulunya yang berwarna kelam bertekstur kasar dan lebat. Tinggi badannya hanya sebatas dada Maya. Akan tetapi tenaganya menyamai kekuatan dua orang pria yang kuat. Demikian pula kekuatan seksnya yang beberapa kali lipat kekuatan seorang pria normal.

Berhubungan seks dengan seekor kera tentu saja berbeda dengan melakukannya bersama seorang pria. Maya harus membiasakan diri bertempelan dengan bulu-bulu Wanara yang kasar… Ia pun harus membiasakan diri dengan bau badan seekor kera yang tentu saja berbeda jauh dengan bau badan seorang manusia…

Belum lagi wajah seekor kera yang tentu saja jauh dari gambaran ketampanan seorang pria yang ada di dalam benak seorang wanita muda seperti Maya…

Satu hal yang sangat terasa adalah kekuatan seksual Wanara. Kera itu dapat menyetubuhinya dalam waktu yang lama hingga Maya dapat mengalami orgasme berkali-kali sebelum kera itu menyudahinya dengan menyemprotkan cairan spermanya yang banyak ke dalam rahimnya…. Selain seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa kera itu membutuhkan hubungan seks dalam frekuensi yang tinggi tiap harinya…

Hal lain yang harus dibiasakan oleh Maya adalah perilaku Wanara yang tak mengenal tempat jika ingin menuntaskan birahinya kepadanya… Saat hidup bersama Sapto, Maya biasa melakukannya hanya di seputar tempat tidur. Sekarang, bersama Wanara, praktis mereka bisa melakukannya di mana saja… Di dalam rumah, di pekarangan, di dalam hutan, di sungai, di atas pohon… dan sebagainya…

Maya pun harus membiasakan dirinya untuk berhubungan seks di muka umum. Tak jarang sehabis ia menyiapkan makanan bagi Ki Edan, Wanara langsung menaiki dirinya untuk meminta jatah. Maka, biasanya saat itu juga mereka akan menuntaskan nafsu birahinya di depan Ki Edan.

Sebenarnya awalnya Maya merasa malu… Pada mulanya ia selalu mengajak kera itu untuk mencari tempat yang tersembunyi terlebih dahulu. Akan tetapi Ki Edan sendiri yang mengajarkan Maya untuk tidak menunda-nunda hajat kera itu terhadap dirinya. Karena sekarang ia telah diperistri oleh kera itu, sudah jadi kewajiban Maya untuk melayaninya sesegera mungkin…

“Sebenarnya aku malu, Ki… makanya aku selalu mengajaknya pergi dulu mencari tempat yang tersembunyi… Barulah kubiarkan ia menyebadaniku…” kata Maya suatu waktu.

“Lagipula apakah kegiatan kami tak akan mengganggu seandainya dilakukan di depan Ki Edan?” tanya wanita itu.

“Tentu saja tidak… Kau kira aku tidak terbiasa melihat pasangan yang sedang kawin?” kata Ki Edan sambil tersenyum.

“Lakukan saja langsung jika si Wanara menginginkannya… Anggap saja itu tontonan pengantar makanku…” kata Ki Edan penuh pengertian.

Sebenarnya Maya khawatir jika Ki Edan jadi tergoda saat melihat aksinya yang panas bersama kera itu. Padahal tentulah ia sungguh-sungguh ingin menuntaskan ritual itu untuk menyempurnakan kesaktiannya. Bagaimanapun, karena Ki Edan sendiri sudah menyatakan tak keberatan, Maya pun mengikutinya saja.

“Baiklah, Ki… Kalau begitu,” kata Maya menyanggupi instruksi majikannya. Sejak itulah wanita itu akan serta-merta melayani Wanara kapan saja dan di mana saja kera itu menginginkannya.

Untunglah ada jamu ramuan Ki Edan yang kini rutin diminum oleh Maya. Benarlah apa kata jin tua itu… Maya tak pernah merasakan gairahnya setinggi ini seumur hidupnya. Setiap hari birahinya selalu naik sampai ke ubun-ubun… Jika itu terjadi, maka harus segera dilampiaskan… Jika tidak, pusinglah kepalanya ditambah dengan rasa gelisah yang tak henti-henti…

Maya bersyukur karena di situ ada Wanara yang kini memiliki libido yang sama dengannya dan dengan demikian mengerti akan kebutuhan seks dirinya… Ki Edan tentu saja tak bisa memenuhi kebutuhannya karena sedang menjalankan ritualnya. Bahkan Maya pun berandai-andai, jika Sapto suaminya ada di sini, tentulah ia pun kewalahan dan tak akan sanggup melayani nafsunya yang sekarang jadi menggebu-gebu.

Kini Wanara dan Maya jadi bergantian saling meminta terlebih dahulu untuk berhubungan seks. Jika kera itu yang birahi, ia akan segera mencari Maya yang biasanya beristirahat di pondok Ki Edan jika sedang tak ada pekerjaan. Sebaliknya, jika Maya sudah merasa suntuk dan pusing, dialah yang akan mencari Wanara di pepohonan atau di pekarangan rumah Ki Edan untuk minta disetubuhi saat itu juga di tempat.

Jika kera itu sedang tidak bernafsu, Maya tak segan untuk berusaha membangkitkan nafsunya dengan segala cara. Biasanya ia akan menggodanya dengan membelai-belai dan menciumi seluruh tubuh kera jantan itu lalu mengulumi penisnya sampai benar-benar berdiri mengeras…

Tenyata kebiasaan mereka bersetubuh di tempat terbuka dan disaksikan oleh siapa saja yang berada di sekitarnya itu memicu suatu peristiwa. Peristiwa yang akan mengubah hidup Maya di alam gaib itu…

Suatu hari sesosok gendruwo bernama Ki Gendeng berkunjung ke kediaman Ki Edan. Gendruwo adalah golongan jin tingkat rendah yang dikenal sangat tinggi hasrat birahinya dan juga doyan pada bangsa manusia. Saat itu kebetulan Wanara sedang mendapatkan jatah rutinnya dari Maya dan terlihat oleh Ki Gendeng. Wanita yang cantik itu tampak sedang pasrah ditunggangi oleh kera jantan yang sedang birahi itu.

Ki Gendeng pun mau tak mau berhenti dulu menyaksikan tontonan gratis itu dari kejauhan sebelum menjalankan niatnya menemui Ki Edan. Maya yang sedang digenjot Wanara pun sebenarnya sempat melihat sosok makhluk itu lalu bertatapan mata dengannya selama beberapa detik. Sejak terbiasa disetubuhi oleh Wanara di depan umum, Maya biasanya jadi lebih bergairah bila tahu ada yang menontonnya. Karena itu saat tahu ada pendatang asing yang memperhatikan aktifitasnya, wanita itu sama sekali tak merasa terganggu.

Sang gendruwo menyimak setiap detik perkawinan si wanita dan kera itu tanpa berkedip. Dilihatnya betapa wanita itu mengalami orgasme yang hebat sebelum si kera pun menyemprotkan spermanya ke dalam tubuh gendaknya itu. Ki Gendeng sampai meneteskan air liur melihatnya dan tak terasa air maninya pun ikut muncrat…

Begitu bertemu Ki Edan, ia pun mengadukan apa yang dilihatnya.

“Ki Edan, aku lihat kau memiliki piaraan seorang wanita cantik di pekaranganmu… Siapakah dia?”

“Ooh… Ya… Itu adalah tumbal pesugihanku yang tak dapat memenuhi janjinya…” jelas Ki Edan.

“Ia adalah istri dari si pelaku…” lanjutnya.

Ki Gendeng pun manggut-manggut mendengarnya.

“Tapi mengapa ia kauberikan begitu saja pada kera piaraanmu? Tidakkah kau suka lagi pada manusia?
Apalagi wanita itu sangatlah cantik…” tanya Ki Gendeng terheran-heran.

Ki Edan tersenyum.

“Tentu saja aku masih suka wanita dari bangsa manusia… Mataku pun tak buta, Ki Gendeng…”

“Aku tahu wanita itu sangat cantik…” lanjutnya. “Tapi saat ini aku sedang menjalani laku wesi geni untuk meningkatkan kesaktianku… selama 12 bulan purnama…”

“Selama itu pulalah aku harus menahan nafsu birahiku….”
Kembali gendruwo itu manggut-manggut mendengar penjelasan Ki Edan.

“Buatku tak masalah…” jelas Ki Edan lebih lanjut. “Tak sulit bagiku untuk mendapatkan wanita dari bangsa manusia untuk di lain waktu…”

“Kalau begitu, berikan saja wanita itu padaku, Ki Edan…” minta Ki Gendeng spontan.

“Sayang sekali kalau manusia secantik itu hanya untuk melayani nafsu seekor kera… Kau kan tahu kalau aku sangat doyan wanita…”

“Aku sudah langsung jatuh cinta padanya begitu melihat kecantikannya dan juga tahi lalat yang ada di tubuhnya… Sepertinya wanita itu benar-benar diciptakan khusus untukku, Ki…”

Ki Edan tampak termenung memikirkan permintaan itu. Sementara gendruwo itu tak bisa menyembunyikan keinginannya yang kuat dari wajahnya.

“Wanara adalah pengikutku yang sangat setia… Walaupun hanya seekor kera, ia telah banyak berjasa bagiku…”

“Mengambil wanita itu dari sisinya tentu akan berat baginya…. Kesedihannya adalah kesedihanku juga… Kira-kira apa yang bisa kau tawarkan padaku untuk menggantinya?”

“Aku akan membawa semua kaumku untuk mengabdi padamu, Ki Edan…”

“Apa pun akan kulakukan untuk mendapatkan wanita itu…. Aku sangat ingin menikmatinya dan mendapatkan keturunan darinya…”

Ki Edan kembali termenung sejenak.

“Baiklah, begini saja… Kuterima tawaranmu… Kau akan kuberikan wanita itu…” kata Ki Edan. Sontak wajah Ki Gendeng pun berubah senang…

“Tapi… supaya adil,” lanjut Ki Edan. “Akan kubiarkan Wanara mendapatkan terlebih dahulu persis seperti yang kauinginkan dari wanita itu…”

“Yaitu…?” tukas Ki Gendeng dengan wajah bertanya-tanya.

“Biarkan Wanara mendapatkan keturunannya terlebih dahulu dari wanita itu… barulah setelah itu giliranmu…”

Ki Gendeng termangu sejenak. Tentu saja itu berarti ia harus menunda hasratnya… namun tampaknya ia tak punya pilihan lain.

“Bagaimana… Cukup adil?” tanya Ki Edan meminta penegasan.

“Baiklah, Ki…. Aku terima…” tanggap gendruwo itu akhirnya.

Keduanya lalu berjabat tangan erat sambil tersenyum lebar menyikapi kesepakatan itu.

Sepeninggal Ki Gendeng, Ki Edan pun mengabarkan berita itu kepada Wanara dan Maya.

Wanara tentu saja sedih. Apalagi Maya telah mulai terbiasa dengan kebutuhan nafsu birahinya pada wanita itu. Wanita itu sudah benar-benar mengerti kapan dan bagaimana harus memuaskan hasrat birahinya. Ia bahkan sudah tak perlu meminum ramuan dari Ki Edan untuk bisa mengimbangi kebutuhan seks kera itu. Mereka sudah sampai ke tahapan saling menikmati hubungan seks mereka dengan frekuensi dan irama yang sama. Kera itu pun sudah mulai ketagihan menyetubuhi wanita cantik itu dan tidak bernafsu lagi terhadap makhluk sesama speciesnya.

Anehnya, Maya pun merasakan hal yang kurang lebih sama. Memang mereka berdua tak bisa saling berkomunikasi secara lisan. Bagaimanapun, selama ia diperistri oleh Wanara telah terjalin tak hanya hubungan fisik melainkan juga hubungan batin. Tentu saja di lain pihak ia pun tak mampu menolak perintah dari Ki Edan. Apapun, statusnya di alam itu adalah tetap sebagai piaraan Ki Edan. Ia harus pasrah dan mematuhi semua yang diperintahkan jin tua itu.

Wanara pun akhirnya mau menerima keputusan tuannya. Apalagi setelah ia diberi tahu bahwa wanita itu tak akan diserahkan kepada sang gendruwo sebelum ia berhasil menghamilinya.

Maka kehidupan kedua makhluk itu berjalan normal kembali seperti semula. Sampai suatu kejadian yang tak masuk akal pun akhirnya terjadilah.

Semakin hari Maya semakin sering merasakan mual. Ia pun semakin lama bisa merasakan adanya kehidupan baru di dalam perutnya… Ya, Maya telah hamil… Wanita itu pun mengabarkan berita itu untuk pertama kali kepada Wanara. Ia tak peduli apakah kera itu mengerti kata-katanya, yang jelas ia terus bercerita tentang kehamilannya. Tampaknya Wanara pun bisa mengerti. Ia pun tampak senang sambil mengelus-elus perut Maya dengan lembut. Mereka berdua pun lalu berciuman mesra.

Maya sebenarnya tak habis pikir, bagaimana bisa ia mengandung bayi seekor kera? Ia dan Wanara berasal dari spesies yang berbeda. Tentulah itu adalah suatu mukjizat yang hanya terjadi sekali di antara beberapa ribu atau bahkan beberapa juta kemungkinan…

Maya dan Wanara merasa gembira karena percintaan mereka ternyata membuahkan hasil. Namun mereka juga sadar bahwa itu menandai semakin berkurangnya hari-hari yang bisa mereka lewati berdua… Karena itulah mereka seolah ingin menikmati setiap detik kebersamaan mereka sebaik-baiknya. Di samping tentu saja sekarang mereka harus lebih berhati-hati dalam berhubungan intim karena adanya bayi yang dikandung oleh Maya…

Semakin hari perut Maya pun semakin besar. Ki Edan dengan penuh pengertian mengurangi pekerjaan yang harus ditangani Maya sehari-hari.

“Terima kasih, Ki..” kata Maya ketika diberitahu Ki Edan hal itu.

“Ya, kau jagalah kandunganmu… dan kauuruslah kera piaraanku,” kata Ki Edan.

“Baik, Ki..” angguk Maya mematuhinya.

Pada waktunya, Maya pun melahirkan bayinya yang berwujud seekor kera sebagai hasil hubungannya dengan Wanara.

Walaupun bayinya adalah seekor kera, naluri keibuan Maya serta-merta muncul. Disayanginya bayi kera itu sepenuh hatinya karena bagaimana pun darah manusianya ikut mengalir pula di dalamnya.

Setelah menyusui bayinya selama enam bulan, Ki Gendeng pun datang menagih janjinya.

Dengan berat hati Maya menitipkan bayinya pada Wanara dan Ki Edan. Lalu dengan pasrah ia mengikuti Ki Gendeng untuk memulai hidup barunya bersama gendruwo itu.

Ki Gendeng adalah gendruwo kelas rendah yang hidupnya di tempat lembab dan gelap. Berbeda dengan Ki Edan yang berasal dari jenis jin tingkat tinggi dan memiliki kecerdasan yang tinggi.

Wujud fisik Ki Gendeng sebenarnya lebih menyerupai monster. Kepalanya mirip kepala babi hutan dengan dua telinga yang besar dan lancip. Serangkaian taring menghiasi mulutnya. Kedua bola matanya besar dan berwarna merah menyala. Tubuhnya pun buncit seperti tubuh babi. Bulu-bulu hitam dan kasar tumbuh mulai dari kepalanya sampai memenuhi punggung dan kedua lengannya. Kedua lengan gendruwo itu panjang dan kekar seperti lengan Wanara, mantan kekasihnya. Kedua kakinya besar dan dilapisi oleh kulit yang tebal bersisik seperti kulit badak. Kakinya yang besar tidak diimbangi oleh panjangnya yang hanya sekitar separuh panjang lengannya.

Ada satu keistimewaan Ki Gendeng yang luar biasa. Penis gendruwo itu ternyata berukuran jumbo. Ukuran dan bentuknya tak jauh beda dengan alat kelamin seekor kuda.

Tak hanya itu, ternyata gendruwo itu pandai pula memanfaatkan ukuran alat vitalnya untuk memuaskan lawan mainnya. Memiliki ukuran penis yang besar, jika tak mampu mengaturnya, hanya akan menyakitkan wanita pasangannya. Dengan Ki Gendeng, Maya tak memiliki masalah itu.

Nafsu birahi Ki Gendeng pun tak kalah tingginya dibandingkan Wanara. Untunglah Maya sudah terbiasa melayani Wanara sehingga ia bisa langsung beradaptasi saat dituntut melayani hasrat seks yang menggebu-gebu dari gendruwo itu.

Perbedaan yang jelas antara Ki Gendeng dan Wanara adalah bahwa Maya bisa berkomunikasi lisan dengan gendruwo itu. Tak jarang mereka berdua terus ngobrol setelah selesai berhubungan badan. Akibatnya tak bisa dihindari, keintiman antara Maya dan Ki Gendeng mulai terjalin. Perlahan-lahan, Maya pun belajar untuk mencintai majikan barunya itu. Kemesraan semakin lama semakin mewarnai hubungan kedua makhluk itu.

Perbedaan lain yang kemudian diketahui Maya adalah bahwa Ki Gendeng tak pernah puas dengan satu orang wanita. Ia tahu kalau gendruwo itu sering masuk ke alam manusia dan mengganggu manusia. Biasanya yang diganggunya adalah ibu rumah tangga yang sedang ditinggal pergi oleh suaminya. Ki Gendeng biasa menyaru sebagai suami si wanita sehingga dengan leluasa menyebadaninya…

Pada awalnya Maya merasa cemburu.

“Saat kau menyebadani wanita-wanita itu, kau harus menyaru sebagai suami mereka… Karena kalau tidak mereka akan ketakutan dan menolakmu…” protes Maya.

“Denganku, kau bisa leluasa memperlihatkan wujud aslimu… dan aku melayanimu sepenuh hatiku…” lanjutnya sambil merajuk.

“Bahkan jika kau mau jujur membandingkan, aku rasa wajahku jauh lebih cantik daripada wanita-wanita yang kautiduri itu…” cerocos Maya tak mau berhenti.

Ki Gendeng tersenyum mendengar celotehan gundiknya yang cemburu itu.

“Semua yang kaukatakan itu benar, Sayangku…”

“Tapi kau harus ingat, bangsa kami memang tak pernah puas menyetubuhi wanita manusia… Setiap ada kesempatan, kami pasti akan melakukannya..”

“Bagaimana pun kau adalah gundikku yang paling istimewa… Kau sengaja kubawa kemari, setelah aku bersusah payah memintamu dari pelukan kera itu…” jelas Ki Gendeng. “Sementara wanita lainnya tak ada yang kuperlakukan seistimewa itu…”

Maya hanya terdiam mendengar penjelasan gendruwo itu. Diam-diam ia membenarkan perkataan Ki Gendeng. Ialah satu-satunya wanita yang beruntung dijadikan sebagai gundik gendruwo itu di alamnya. Wanita-wanita yang lain tetap tinggal bersama suami mereka di alam manusia dan hanya dikunjungi oleh Ki Gendeng sewaktu-waktu.

“Kau juga harus belajar berbagi, Maya…” kata Ki Gendeng mengajari wanita itu.

“Aku harus membagi kenikmatan seksual kepada istri-istri yang kesepian itu… Mereka jarang atau bahkan tak pernah menikmati kehidupan seks bersama suaminya… Karena itulah aku membantu mereka…” kata Ki Gendeng menjelaskan perilakunya.

“Demikian juga halnya dengan kau,” lanjut Ki Gendeng. “Jangan kira kau hanya akan melayani aku sendiri… Nanti kau juga harus belajar melayani teman-teman dan kerabatku sesama gendruwo…”

Maya terkejut mendengar kalimat Ki Gendeng yang terakhir… Melayani gendruwo yang lain?

“Ya, Maya… Tenang sajalah… Pelan-pelan dulu, nanti akan kukenalkan teman-temanku satu per satu kepadamu…” kata Ki Gendeng seolah bisa membaca pikiran wanita itu.

“B.. Baiklah… Ki….” kata Maya tergagap mencoba mematuhinya.

Lambat laun Maya pun memahami konsep berbagi yang diajarkan gendruwo itu padanya. Kini ia tak cemburu lagi jika Ki Gendeng mendatangi wanita-wanita lain untuk disetubuhinya.

Demikian pula dengan dirinya yang mulai belajar untuk tak hanya berhubungan seks dengan Ki Gendeng. Satu demi satu, Ki Gendeng memperkenalkan Maya dengan gendruwo-gendruwo lainnya yang beraneka ragam bentuknya… Ada yang seperti gorila, seperti orang Afrika, seperti serigala, dan lain-lain…

Mulanya Maya memang merasa risih… Namun dengan bimbingan Ki Gendeng yang penuh kesabaran, wanita itu akhirnya mau juga belajar membagi tubuh dan cintanya kepada makhluk-makhluk itu.

Sejak diajari oleh Wanara untuk bersetubuh di muka umum, Maya pun tahu kalau makhluk-makhluk yang kebetulan menontonnya sebenarnya jadi tergiur juga untuk ikut menyetubuhi dirinya. Cuma selama ini memang mereka takut terhadap Wanara dan Ki Edan sehingga mereka sebatas jadi penonton saja, tidak pernah ikut nimbrung.

Bagaimanapun, melihat minat para penontonnya, lama-kelamaan Maya mulai berfantasi disetubuhi juga oleh mereka. Ia mulai membayangkan nikmatnya disebadani oleh lebih dari satu pejantan. Tidak disangkanya kalau sekarang, setelah hidup bersama Ki Gendeng, khayalannya itu malah menjadi kenyataan. Maka Maya pun mulai membiasakan diri terhadap anjuran Ki Gendeng untuk berganti-ganti pasangan dalam bersetubuh.

Apalagi ketika Maya mulai belajar bahwa makhluk-makhluk itu ternyata menaruh hasrat yang sangat luar biasa kepada wanita manusia. Bagi mereka, bersetubuh dengan Maya adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Mereka sangat memuja wanita cantik itu dan menganggapnya seolah-olah dewi seks. Maya jadi tersanjung dan sebagai timbal baliknya, ia merasa berkewajiban untuk melayani mereka sebaik mungkin… Membagi kesenangan dan kenikmatan badani kepada sebanyak mungkin gendruwo yang mungkin selama ini tak semuanya memiliki kesempatan untuk berinteraksi langsung apalagi berhubungan seks dengan wanita manusia.

Beberapa purnama telah berlalu. Sebagai akibat hubungan asmara dengan Ki Gendeng dan kawan-kawannya, Maya pun akhirnya hamil. Ki Gendeng dan gerombolannya tetap setia memberikan nafkah batin kepada Maya sekaligus juga memuaskan nafsu birahi mereka sendiri sampai akhirnya Maya melahirkan bayi hasil benih cinta mereka bersama.

Diberinya nama anak laki-laki itu Dalbo. Anak itu wujudnya mirip manusia namun berbulu lebat di beberapa bagian tubuhnya. Sebagian kulitnya pun terasa keras seperti kulit badak. Saat lahir, seluruh giginya telah lengkap. Inilah bayi ketiga yang dilahirkan wanita itu dari rahimnya. Semuanya memiliki ayah yang berbeda-beda dan dari jenis makhluk yang berbeda-beda pula…

Dengan penuh kasih sayang, Maya menyusui anak ketiganya itu secara rutin. Dilakukannya hal itu di sela-sela kesibukannya melayani hasrat para ayahnya yang tak habis-habis.

Selama hidup di alam gaib, Maya telah mengalami diperistri oleh makhluk-makhluk selain manusia. Mulai dari hewan sampai gendruwo. Dari sisi kehidupan seksual, wanita itu tak mengalami masalah sama sekali. Malah ia merasakan kenikmatan yang lebih daripada saat kehidupannya berumah tangga dengan Sapto. Ia pun merasa beruntung telah mendapatkan pengalaman yang langka tersebut.

Namun, bagaimana pun bervariasinya kehidupan seksnya di alam sana, ia tetap tak bisa melepaskan ingatannya dari Sapto, suaminya yang sah. Hinggap dari pelukan demit yang satu ke demit yang lain memang memberikannya kepuasan seksual yang tiada tara. Namun ia pun tetap merindukan kehidupan normalnya di alam manusia. Ia tahu keberadaannya di alam ini bukanlah karena salahnya, melainkan karena kesalahan suaminya.

Seandainya saja suaminya mau bertobat, ia pun ingin dapat kembali ke kehidupannya yang biasa-biasa saja di alam manusia. Maya pun tentu saja rindu dengan putri satu-satunya di sana. Rasanya sudah lama sekali ia hidup di alam jin ini. Bagaimanakah kiranya kabar dan rupa putrinya itu kini? Masihkah ia ingat akan dirinya sebagai ibu kandungnya?

Di lain pihak, kebetulan pula Ki Edan mendapatkan kabar bahwa Sapto telah melakukan pertobatan. Ia benar-benar telah menyesali segala perbuatannya. Tak hanya itu, ia pun melakukan segala daya upaya untuk mendapatkan istrinya kembali. Dimintanya bantuan seorang kiai untuk melakukan hal itu.

Di alam manusia, Sapto yang sangat stress dan mengalami depresi menjalani kehidupan yang sangat berat. Hampir saja ia mati karena tak kuat menahan cobaan itu sendirian. Untunglah ada seorang Kiai bernama Kiai Badrun yang mau menolong Sapto. Kiai itu kebetulan tinggal di lingkungan yang sama dengan Sapto dan telah mengetahui cerita tentang pria malang itu dari para tetangganya.

Kiai Badrun pelan-pelan membimbing Sapto untuk bertobat dan mulai menjalani perintah agama. Sangat berat usaha yang dilakukannya untuk menolong pria itu walaupun akhirnya berhasil juga. Setelah Sapto berhasil disembuhkannya, barulah mereka mulai fokus untuk menyelamatkan istri Sapto.

Melalui kekuatan batinnya, Kiai Badrun sebenarnya mengetahui persis apa yang telah dialami oleh Maya selama di alam gaib namun ia tak memberitahukan itu sama sekali kepada suaminya. Ia tahu, jika Maya tak segera diselamatkan, wanita itu akan selamanya menjadi budak para dedemit. Karena itu ia berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan istri Sapto itu ke alam asalnya. Paling tidak di alam manusia ini ia akan bisa berusaha membimbing wanita itu sama seperti yang sudah dilakukannya terhadap suaminya.

Ki Edan pun tak bisa berbuat banyak. Jika orang yang mencari pesugihan kepadanya telah benar-benar bertobat, ia tak akan bisa menggunakan kekuasaannya untuk menguasai orang itu lagi. Begitu juga apa yang telah diambilnya dari Sapto, yaitu Maya istrinya, harus pula ia kembalikan.

Karena tak punya pilihan lain, Ki Edan pun menghubungi Ki Gendeng. Diberitahukannya kabar itu dan disarankannya untuk segera merelakan gundiknya pergi karena ia akan diambil kembali oleh suaminya.

Ki Gendeng tentu saja merasa terpukul. Ia telah begitu intim dengan Maya dan bahkan telah mendapatkan keturunan pula dari wanita itu. Ki Gendeng mengatakan pada Ki Edan, kalau Maya diambil, bukan hanya dirinya yang akan kehilangan, melainkan juga seluruh gendruwo pria dalam kaumnya. Itu dapat dipahami karena selama ini Ki Gendeng telah berbaik hati untuk membagi Maya kepada seluruh kerabat dan temannya. Dengan demikian, bukan cuma dia seorang yang mendapat kenikmatan bersetubuh dengan wanita cantik itu, melainkan juga seluruh gendruwo lelaki di dalam kaumnya.

Bagaimanapun Ki Gendeng sadar bahwa ia pun tak bisa berbuat apa-apa. Pengaruh pertobatan Sapto terasa sangat kuat. Semakin hari semakin kuat. Jika Maya tak segera dikembalikan ke dunianya, risiko yang harus mereka tanggung terlalu besar. Kerajaan dan kekuatan mereka lambat laun akan tergerogoti.

Akhirnya mereka pun sepakat untuk mengembalikan Maya kepada suaminya. Sekedar untuk penghibur, mereka meyakinkan diri mereka sendiri bahwa masih banyak kesempatan untuk mendapatkan lagi wanita manusia yang bisa mereka jadikan sebagai pemuas birahi. Bagaimana pun, memang tak mudah untuk mendapatkan yang secantik, seseksi, dan sepatuh Maya.

Pada waktu yang telah disepakati, Ki Gendeng dan rombongannya mengantarkan Maya kembali kepada Ki Edan. Rombongan yang panjang itu terdiri dari seluruh gendruwo laki-laki yang pernah mengawini Maya selama wanita itu diperistri oleh Ki Gendeng. Maya lalu menitipkan bayi laki-lakinya kepada Ki Gendeng untuk diurus. Kejadian saat Maya harus meninggalkan Wanara untuk dibawa Ki Gendeng seakan berulang. Kini Ki Gendeng lah yang harus ditinggal oleh Maya supaya ia bisa dikembalikan kepada Sapto, suaminya yang sah.

Maya tentu saja ingin dikembalikan kepada suaminya yang sah. Bagaimanapun, di lain pihak ia pun merasa sedih harus meninggalkan gerombolan gendruwo pimpinan Ki Gendeng yang selama ini telah mengurusnya dan memberinya kepuasan seksual. Yang paling membuatnya sedih adalah harus meninggalkan Dalbo, darah dagingnya hasil percampuran dengan gendruwo tersebut.

Saat diserahterimakan kembali kepada Ki Edan, Maya melihat jin tua itu menggenggam sesuatu di tangannya. Sesuatu yang sangat familiar dengannya, yaitu seuntai kalung yang biasa dikenakan oleh wanita itu saat masih tinggal di situ. Kalung yang menandakan pemakainya adalah milik Ki Edan. Ya, walaupun Maya hanya transit di kediaman Ki Edan sebelum dikembalikan kepada suaminya, status dirinya saat itu adalah kembali di bawah kekuasaan Ki Edan. Ia pun dapat memahaminya.

Maka ketika Ki Edan mendekati dirinya untuk menyematkan kalung itu kembali ke lehernya, Maya segera menyibakkan rambutnya yang hitam panjang untuk memudahkan jin tua itu melakukan pekerjaannya.

Setelah berpamitan, gerombolan Ki Gendeng berlalu meninggalkan kediaman Ki Edan. Ki Edan pun membawa Maya masuk ke rumahnya yang telah ditinggalkan oleh wanita itu selama beberapa lama.

Pandangan Maya menerawang menjelajahi rumah jin tua yang eksotis itu. Ada nostalgia yang muncul kembali di benaknya. Secara fisik tak banyak yang berubah. Hanya ada suasana berbeda yang dirasakannya. Ada semacam keheningan dan kekosongan…

Ki Edan bisa merasakan apa yang ada dalam pikiran Maya.

“Wanara sekarang tak ada di sini lagi. Ia sudah kukirim kembali ke alam manusia….” kata Ki Edan.

Maya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Ki Edan. Ia mengerti sekarang kenapa suasana di situ dirasanya lebih sepi. Itu menjelaskan semuanya.

“Ia gelisah terus sejak dirinya kautinggalkan. Karena itulah kuiizinkan ia bersama anak kalian pergi ke alam manusia,” lanjut Ki Edan. “Harapannya, ia dapat menemukan wanita lain sebagai pengganti dirimu. Ia telah ketagihan menyetubuhi wanita manusia. Jika di sini terus, tentu ia tak akan mungkin melakukannya…. Aku hanya berharap ia berhasil menemukan jodohnya di sana…”

Maya hanya tercenung mendengar penjelasan Ki Edan. Ada sedikit perasaan bersalah tersirat di dalam hatinya. Apa daya, waktu itu ia hanya menjalankan perintah dari Ki Edan sebagai tuannya. Maya hanya bisa berharap kera itu segera menemukan wanita lain di sana. Kalau tidak, mungkin ia terpaksa mencari mantan kekasihnya itu saat sudah dikembalikan Ki Edan ke alam yang sama.

Maya sadar ia masih memiliki perhatian pada mantan kekasihnya itu. Ia ingin tahu bagaimana kondisi mantan belahan jiwanya itu sekarang. Jika ia baik-baik saja dan telah menemukan wanita lain yang bisa dijadikan sebagai pemenuh kebutuhan birahinya, ia akan merasa turut senang. Jika tidak, ia ingin sekali dapat menghiburnya dan memberikan tubuhnya kembali untuk disenggamai oleh kera yang malang itu sebagai pemuas dahaganya untuk sementara saja, sampai ia mendapatkan penggantinya. Bukannya ia tak mau hidup bersama Wanara lagi tapi di alam manusia sana ia telah mempunyai Sapto sebagai suaminya.

“Lalu, bagaimana dengan anakku…?” Naluri keibuan Maya segera muncul kembali.

“Jangan khawatir… Wanara akan menitipkannya kepada keluarganya untuk diurus dengan sebaik-baiknya… sementara ia melakukan pencariannya….”

Sedikit banyak Maya merasa lega mendengar penjelasan itu.

Maya lalu mohon izin kepada Ki Edan untuk mandi karena ia baru saja bersih kembali dari haidnya.

Satu hal yang tak disadari Maya, bahwa Ki Edan telah berubah… Saat itu Ki Edan telah merampungkan ilmunya. Sekarang ia tak perlu lagi menahan nafsu birahinya. Ia sekarang sudah lebih sakti dan dapat kembali ke sifat asalnya yang senang mengumbar birahi….

Maya yang tak menyadari itu membiarkan saja ketika Ki Edan menatapinya selama ia mandi di pancuran. Ia sudah terbiasa bugil dan mempertontonkan keindahan tubuhnya di hadapan tuannya itu.

Ki Edan baru menyadari betapa cantiknya Maya. Timbullah keinginannya untuk juga melampiaskan birahinya kepada wanita itu.

“Maya, kau cantik sekali…” desah Ki Edan mengutarakan kekagumannya.

“Ada apa, Ki…?” tanya Maya keheranan sambil berdiri di bawah pancuran. “Kau telah begitu baik kepadaku selama ini… tapi rasa-rasanya kau jarang memujiku seperti itu….”

“Aku telah berbuat baik kepadamu…?” tanya Ki Edan seolah meminta penjelasan.

“Ya, Ki… Kau telah mencarikanku jodoh selama tinggal di sini dan mengajariku banyak hal…” jelas wanita itu sambil tersipu.

“Aaah… itu bukan apa-apa, Sayangku…” kata Ki Edan. “Memang itulah salah satu tujuanku membawamu kemari…”

“Kau suka dengan apa yang telah kulakukan padamu selama ini?”

Maya mengangguk sambil tersenyum.

“Tapi kau belum menjawab pertanyaanku, Ki…”

“Yaitu?”

“Mengapa kau tiba-tiba memujiku…”

“Maya, aku ingin kau tahu satu hal…”

“Aku telah menyelesaikan ritualku… Kini aku semakin sakti… dan dapat menyalurkan hasrat seksualku lagi seperti biasa…” lanjut Ki Edan.

Mata Maya terbelalak mendengar penjelasan itu. Entah kenapa rasanya ia senang sekali mendengarnya. Tanpa berkata apa-apa, Ki Edan pun berjalan mendekati wanita itu. Keduanya saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Seakan ada suatu kontak batin yang kuat sedikit demi sedikit terjalin di antara mereka berdua. Lalu entah siapa yang memulai, tiba-tiba kedua makhluk itu pun saling berpelukan dan berpagutan di bawah pancuran…

Momen yang terjadi sekilas dan tiba-tiba itu ternyata membawa Maya ke suatu titik balik. Suatu hal besar yang di luar pemikiran dan perkiraannya telah terjadi. Hal itu tiba-tiba terlintas di dalam benaknya. Membuatnya tiba-tiba mampu membuat suatu keputusan berani yang tak pernah dibayangkannya sebelumnya.

“Ki, bawalah aku…” tiba-tiba Maya berkata setelah mereka berciuman beberapa lama.

“Aku rela tidak kaukembalikan kepada suamiku… asal bisa mengikuti dan mengabdikan diriku padamu…” katanya mantap sambil menatap ke arah mata tuannya yang sekaligus ia harapkan mau menjadi kekasihnya pula…

Maya baru sadar bahwa ia sebenarnya telah mengagumi jin tua yang gagah perkasa itu sejak pertemuan pertama mereka. Sekarang ia baru sadar bahwa ternyata ia juga mencintainya dan rela dijadikan sebagai apa pun olehnya.

Ki Edan balas menatap dalam-dalam mata wanita yang berada dalam pelukannya itu. Dilihatnya pancaran mata yang tulus dan jujur dari seorang wanita yang tengah jatuh cinta….

“Sayang… aku tahu perasaanmu… Hanya saja untuk sementara ini aku terpaksa mengembalikan dirimu kepada suamimu. Ada banyak konsekuensinya jika itu tidak kulakukan…” Ki Edan mencoba menjelaskan.

Ada gurat kekecewaan tergambar dalam mata wanita itu. Ki Edan bisa melihatnya dengan jelas.

“Tapi jangan khawatir… Sebelum kau kukembalikan kepada suamimu, kita tetap bisa menjalani malam pengantin bersama…” hibur Ki Edan.

“Oooh… Ki…” desah Maya.

Mereka pun berpelukan erat di bawah pancuran air.

Tak sulit bagi Ki Edan untuk membimbing Maya supaya mau melayaninya sehingga ia akhirnya berkesempatan menuntaskan nafsunya pada wanita cantik itu. Kebetulan Maya pun sedang berada di puncak birahinya karena baru memasuki masa subur.

Di ruangan pribadi Ki Edan yang bernuansa hutan, kedua makhluk berbeda alam itu pun memadu kasih seperti layaknya sepasang pengantin baru. Maya seakan baru tersadar bahwa inilah sebetulnya saat yang ditunggu-tunggunya sejak pertama kali ia dibawa ke alam jin.

“Ki Edan, akhirnya kita bisa bersatu juga…” desah Maya yang terbaring pasrah tak berdaya dalam pelukan Ki Edan.

“Sejak pertama bertemu denganmu… aku sudah ingin merasakan kejantananmu…” jelas Maya membuka rahasianya.

“Walaupun keramu yang terlebih dahulu mendapatkan diriku… Aku lega karena akhirnya kita pun bisa bersetubuh di ranjang ini…” kata Maya mencurahkan isi hatinya.

“Maya….” balas Ki Edan haru sambil memagut bibir wanita itu. Mereka pun berciuman dengan dalam seperti sepasang kekasih yang sudah lama terpisahkan…

Ki Edan menyisipkan penisnya yang berukuran besar ke dalam vagina Maya. Wanita itu menahan nafas. Ia menantikan kenikmatan yang sudah lama diidam-idamkannya. Maya merasa badannya bergetar saat penis Ki Edan bersatu secara utuh dengan vaginanya… Untunglah Maya sudah terbiasa melayani Ki Gendeng dan teman-temannya. Kebetulan gendruwo-gendruwo itu semuanya memiliki ukuran penis yang besar melebihi ukuran penis manusia. Bagaimanapun penis Ki Edan memang masih lebih besar lagi…

Setelah Maya terbiasa menerima alat kelamin Ki Edan di dalam tubuhnya, jin itu pun mulai menggenjotnya. Maya pun menikmati setiap detik dari persenggamaan mereka.

Keduanya menjalani persenggamaan seperti layaknya sepasang pengantin baru. Seperti sudah diduga oleh Maya, Ki Edan adalah pecinta yang sangat hebat di atas ranjang. Dengan pengalamannya yang sudah mencapai ribuan tahun, dibawanya Maya ke puncak orgasme sampai berulang-ulang dengan berbagai teknik yang membuat wanita itu terkagum-kagum.

Hingga saat Maya sudah kelelahan dalam kubangan orgasme yang datang beruntun, Ki Edan memberi kesempatan wanita itu untuk beristirahat sejenak. Masih dengan alat kelaminnya yang tegang tertancap teguh di dalam kemaluan Maya, jin tua itu mendekatkan wajahnya ke wajah Maya yang ada persis di bawahnya.

“Maya, kinilah saatnya…. aku titipkan keturunanku di dalam rahimmu…”

“Baik, Ki… anak kita berdua…” balas wanita itu dengan mesra.

“Aku berjanji… aku berjanji akan merawatnya sebaik mungkin… Lepaskanlah… lepaskanlah spermamu ke dalam rahimku, Ki” kata Maya memohon.

“Tentu, gendakku….” balas Ki Edan sambil meningkatkan genjotannya yang membuat kemaluan Maya terasa semakin panas… Akibatnya, orgasme yang beruntun pun tak terelakkan lagi menerpa tubuh wanita itu… Maya pun merasa semua tulang belulangnya bercopotan. Suasana yang memabukkan menghempas dirinya yang bugil dalam pelukan jin tua itu….

“Ooooouuuuu….uuuuhhh…..” desah wanita itu berkepanjangan sambil satu tangannya meremas seprai ranjang tempat mereka memadu kasih. Sementara tangannya yang lain mendekap tubuh besar jin tua itu yang menindih tubuhnya.

Tak lama kemudian, Maya pun merasakan jin itu melepaskan semprotan air maninya ke dalam rahimnya.

Ki Edan melenguh panjang. Maya pun tersenyum bahagia dengan lebarnya. Mereka lalu saling berpagutan sambil berpelukan. Beberapa lama mereka berdua terpaku dalam posisi Ki Edan menindih tubuh Maya. Kedua alat kelamin mereka masih bersatu. Cairan sperma jin tua itu tampak mengalir keluar dari dalam vagina Maya saking banyaknya… Membasahi seprai putih yang mereka tiduri.

Ki Edan puas karena akhirnya ia berhasil pula mencicipi tubuh Maya walaupun terlambat. Ia pun sebetulnya masih ingin lebih jauh lagi menikmati wanita itu. Apa daya tuntutan dari suaminya yang telah bertobat harus dipenuhinya terlebih dahulu.

Bagaimanapun, Ki Edan sadar bahwa walaupun Sapto sekarang telah kuat, kebalikannyalah yang terjadi dengan istrinya. Istrinya memang tidak pernah meminta pesugihan. Namun pengalamannya hidup di alam gaib dan diperistri oleh berbagai macam makhluk tentulah sedikit banyak telah membawa pengaruh.

Maya yang sekarang berbeda dengan Maya yang dulu pada saat ia diambil dari sisi suaminya. Wanita itu kini telah terbuka matanya terhadap semua ajaran dan praktek kebebasan seksual yang dilakukan oleh bangsa demit dan jin. Ia telah menjadi bagian dari mereka. Apalagi Maya pun telah melahirkan anak-anaknya di alam gaib ini. Ini membuat ikatan yang kuat antara wanita itu dengan alam ini.

Karena alasan itulah, Ki Edan percaya sepenuhnya dengan pengakuan Maya yang tulus sebelum mereka memulai persetubuhan tadi.

Ki Edan percaya bahwa dia masih akan bisa bersua kembali dengan Maya di lain kesempatan. Itu pula sebabnya ia begitu percaya diri untuk menitipkan spermanya di dalam rahim wanita itu. Ia tak mau ketinggalan dari para hamba pengikutnya yang telah mendapatkan keturunan dari wanita cantik yang subur itu. Setiap makhluk di alam jin itu akan naik derajat dan wibawanya jika berhasil mendapatkan keturunan dari seorang wanita manusia. Untunglah mereka melakukan persenggamaan itu bertepatan dengan mulainya masa subur Maya… Harapannya, jika Maya telah kembali kepada suaminya, ia akan hamil dan melahirkan anak sebagai hasil hubungan cinta mereka malam itu.

Dua hari dua malam Ki Edan menyetubuhi Maya. Kamar tidur Ki Edan pun menjadi saksi bulan madu dari pasangan yang sedang dimabuk kepayang itu. Saat itulah Maya sadar bahwa hidupnya telah ditakdirkan untuk sepenuhnya menghamba kepada jin tua yang perkasa itu.

Walau apa pun yang telah terjadi dalam waktu yang singkat itu, Ki Edan adalah makhluk yang mau menepati janjinya. Setelah puas menikmati malam pengantinnya bersama Maya, Ki Edan mengingatkan wanita cantik itu untuk bersiap-siap. Hari itu ia akan mengembalikan wanita itu kepada suaminya.

Ki Edan dan Maya berjalan berpegangan tangan menyusuri gua persemedian Ki Edan. Udara dalam gua itu semakin ke dalam semakin dingin. Maya yang tubuhnya tak dilapisi sehelai kain pun merasa merinding. Hari itu Ki Edan akan menepati janjinya untuk mengembalikan Maya ke alam manusia.

Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, sampailah mereka ke sebuah kolam yang bening di dalam gua itu. Kolam yang cukup besar itu begitu tenang airnya. Ribuan stalagtit dan stalagmit tampak mengitarinya.

Ki Edan menyuruh Maya untuk mengambil posisi semedi di atas sebuah batu besar di tengah kolam itu.

“Duduklah di atas batu itu dan bersemedilah, supaya aku bisa mengembalikanmu ke alam manusia..” kata Ki Edan.

“Baiklah, Ki…. Aku pamit dulu untuk kembali ke duniaku,” kata Maya.

Maya mencium tangan Ki Edan sebelum melakukannya. Ki Edan pun lalu meraih wajah Maya dan memagut bibirnya lama. Tubuh keduanya pun berdekapan erat.

Saat berdekapan, Maya merasa penis Ki Edan tumbuh membesar… Ia tahu, jin itu terangsang karena bersentuhan dengan tubuh telanjangnya… Maya pun merasakan getaran birahi yang sama. Wanita itu lalu dengan sengaja menggoda dan merangsangi kembali majikannya dengan cara menggerak-gerakkan badannya di dalam pelukan jin itu sampai birahinya benar-benar naik.

“Ki… Kumohon, setubuhilah aku untuk yang terakhir kalinya….” pinta Maya dengan penuh harap.

Maka di tempat itu, Maya yang sudah memasrahkan dirinya kembali disetubuhi si jin tua. Selain menyimpan spermanya ke dalam rahim Maya yang subur, Ki Edan pun sempat mengguyurkan spermanya yang luar biasa banyaknya itu ke sekujur tubuh Maya.

Maya yang sudah telanjur jatuh cinta kepada jin tua itu masih merasa sulit untuk berpisah dengannya. Wanita itu terus memeluk Ki Edan yang baru saja menyetubuhinya. Setelah Ki Edan menyetubuhinya untuk yang kedua kalinya dan berjanji untuk menemuinya lagi saat ia telah kembali ke alam manusia, barulah Maya bersedia untuk berpisah.

“Maya, karena keberadaanmu di sini adalah karena ulah suamimu dan sekarang suamimu telah bertobat, maka aku berkewajiban untuk mengembalikanmu sekarang,” jelas Ki Edan.

“Tapi setelah kau kembali ke duniamu, aku akan menemuimu lagi,” janji Ki Edan. “Dan jika saat itu kau masih tetap ingin ikut denganku dan mengabdi padaku, tak ada lagi yang bisa menghalangi kita.”

“Hubungilah aku, Ki…. Temuilah aku…. Aku akan merindukanmu…” Maya memohon penuh harap.

“Aku berjanji akan mengikutimu bila kau datang menjemputku kelak….” kata wanita itu memastikan niatnya pada kekasihnya.

Ki Edan tersenyum penuh makna mendengar janji gendaknya yang cantik rupawan itu.

“Sesampainya di sana, mungkin kau akan melupakan semua yang telah terjadi di dunia gaib ini… tapi aku akan menghubungimu,” jawab Ki Edan.

“Aku tak akan membersihkan sperma hasil persetubuhan kita yang terakhir ini… Mudah-mudahan sesampainya di alamku aku masih akan mengingatmu dengan melihat ini semua…”

Ki Edan kembali tersenyum mendengar kesetiaan gundiknya. Dalam hati ia meneguhkan niatnya untuk menghubungi Maya kembali. Akhirnya tibalah saat perpisahan. Ki Edan melepaskan kalung yang melingkar di leher Maya yang selama ini menandakan wanita itu adalah miliknya. Dalam dadanya, Maya merasa sesak karena ada perasaan tak rela…

Tanpa berkata-kata lagi, Ki Edan pun bergerak menjauh. Tinggallah kini wanita itu sendirian.

Maya duduk di atas batu itu dan bersemedi sambil mengatupkan kedua telapak tangannya dan meletakkannya di depan dadanya.

Matanya terpejam dan dikosongkannya pikirannya. Cukup lama ia berada dalam keadaan bugil di posisi itu sampai di sekelilingnya terasa gelap. Perlahan-lahan, terasa air kolam seperti meningkat naik dan menyelimuti dirinya. Anehnya ia tetap dapat bernafas. Seolah ada suatu selaput gaib yang menyelubungi dirinya. Sementara air di sekelilingnya terasa berputar perlahan-lahan mengelilingi dirinya. Makin lama makin kencang.

Maya merasa ia tenggelam di pusaran air. Pusingan air membuat kepalanya menjadi pening. Tak lama kemudian ia tak sadarkan diri.

Sapto pun menemukan kembali istrinya yang sudah lama hilang. Kiai Badrun yang selama ini membantu Sapto untuk bertobat dan berusaha mengambil kembali istrinya, sebelumnya telah mengingatkannya untuk bersiap-siap pada malam itu. Berdasarkan penerawangan gaibnya ia tahu istri Sapto akan dikembalikan malam itu.

Sapto terkejut ketika mendengar suara guntur menggelegar seperti tepat di dalam rumahnya yang kecil. Bumi pun terasa bergoyang selama beberapa detik… Tengah malam itu ia sedang berkontemplasi sambil berjaga-jaga. Seberkas cahaya yang sangat terang berkelebat dari dalam kamar mandi. Didapatinya Maya tergolek tak sadarkan diri di lantai kamar mandi dalam keadaan basah kuyup terbungkus selaput kental di sekujur tubuhnya yang bugil. Lapisan itu terasa seperti lendir…. seperti sperma sapi… hanya dalam jumlah yang sangat banyak…. Sapto tak tahu benda apa itu.

Yang dikhawatirkannya saat itu hanyalah kondisi istrinya. Dilihatnya istrinya tak bergerak. Ia takut kalau-kalau istrinya telah mati. Ia sangat bersyukur ketika mendapati jantung istrinya masih berdetak. Ia hanya pingsan.

Sambil menunggu istrinya bangun, pelan-pelan dibersihkannya tubuh istrinya dari lendir yang lengket itu. Dibasuhnya dengan air bersih dan sabun lalu dikeringkannya. Dibopongnya tubuh yang lunglai itu ke atas tempat tidur. Diambilnya gaun tidur istrinya yang sudah lama tak digunakan lalu dikenakannya dengan hati-hati.

Tak lama kemudian, Maya pun terbangun dari tidur panjangnya. Dilihatnya suaminya berada di sampingnya.

“Mas Sapto…” seru Maya lemah sambil berusaha bangkit. Badannya terasa lemas semua.

“Sayangku…,” sambut Sapto yang dari tadi duduk di sampingnya. Dipeluknya tubuh istrinya yang terasa tak bertenaga. Ditumpahkannya kerinduannya yang telah lama ditahannya.

“Maafkan aku, sayang… Maafkan…” Sapto meminta maaf pada istrinya sambil terisak-isak.

“Ada apa, Mas… Apa yang telah terjadi…?” desah Maya kebingungan. Ia rasanya seperti baru kembali dari tidur yang panjang. Rasanya seperti orang linglung. Tak ada satu pun pengalamannya di dunia gaib sana yang diingatnya. Tubuhnya lemas bukan main. Seluruh tulangnya serasa bercopotan. Capek sekali…

Sekilas ia ingat dibawa pergi oleh sesosok makhluk gaib yang mengerikan sebagai tumbal pesugihan suaminya. Itu saja…. Mengingat itu Maya pun menangis… Lalu mengapa sekarang ia bisa berada di sini? Apakah semuanya hanya mimpi?

“Mas… Bagaimana ini bisa terjadi…? Kau sudah…?” isak Maya terbata-bata. Sekilas wanita itu melihat perbedaan pada suaminya. Wajahnya seperti jadi lebih rapi, lebih bercahaya dan bijaksana. Apakah suaminya telah berubah?

“Jangan khawatir, sayang… Semuanya sudah usai… Sudah usai… Tak perlu kaupikirkan lagi…” kata Sapto sambil menangis.

Sepasang suami isteri itu pun saling berpelukan melepaskan kerinduan. Mencoba melupakan masa lalu. Sambil berusaha bangkit untuk memulai hidup baru….

TAMAT